Warga Tukka Ini Butuh Perhatian Pemkab Tapteng

oleh -1.145 views

TAPTENG NEWS – JAM 11.20 WIB

Poniem Jawa (60) bersama anaknya Poniman Siregar yang tinggal di daerah Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah atau tepatnya dibelakang sekolah karya tua yang sudah tutup saat ini. Sangat membutuhkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng, sebab kondisi tempat tinggal kedua warga ini sangat memprihatinkan.

Dimana saat ini mereka hanya tinggal dalam sebuah gubuk yang kecil beratapkan tenda biru dan dinding terbuat dari seng bekas

Poniem Jawa (60) ketika dikonfirmasi bercerita bahwa dirinya berasal dari daerah Sidimpuan, lalu pindah ke Tapanuli Tengah lebih kurang sudah tiga bulan lamanya.

“Awalnya saya bersama anak saya datang dari Padang Sidimpuan hanya ingin melihat anak perempuan saya yang berdomisili di Kelurahan Aek Tolang, karena takut merepotkan anak perempuannya tersebut. Akhirnya saya berinisiatif mengambil langkah untuk hidup mandiri dan membawa anak laki – laki sayan untuk tinggal di daerah jalan tukka,” katanya

Baca Juga :  Kenali Berbagai Jenis Rasa Nyeri yang Mungkin Pernah Anda Rasakan

Lanjutnya, begini lah kehidupan kami. Kadang kami tidur dipondok ini dan terkadang juga tidur di Masjid.

“Ya beginilah kami apa adanya, buat makan saja susah apalagi untuk menyewa rumah,” ucapnya

Selain itu Poniem, ternyata memiliki empat anak, tiga sudah mapan dan berkerja untuk keluarganya masing – masing. Akan tetapi sebagai anak, mereka juga terkadang membantu orang tuanya seadanya.

“Kalau uang saya tidak ada, ya paling anak saya yang membantu seadanya. Kerja mereka juga mocok – mocok, yang sering membantu saya, anak saya yang berjualan roti keliling,” terang Poniem.

Tidak hanya itu, disamping tempat tinggalnya yang terbatas anak Poniem juga terlihat seperti terkena penyakit tumor pada bagian lengan tangan dan badannya.

Baca Juga :  Indonesia Berpeluang Tinggi Menambah Mendali Emas Lewat Jetski

“Penyakit anak saya sudah sejak lahir, sudah pernah saya bawa ke rumah sakit. Tapi tetap juga belum sembuh sampai sekarang,” ujarnya

Sambunngnya, bahwa dirinya sangat berterima kasih kepada pemilik lahan. Sebab lahan yang dipergunakannya itu diperdayakan untuk menanam padi dan tanaman lainnya disekitar lokasi pondok tempat dia tinggal.

Amatan dilapangan, Poniem dan putranya itu ternyata membuat masyarakat merasa berempati kepada kedua orang tersebut. Tempat tinggal yang dihuni Poniem dan ananknya termasuk jauh dari kata layak huni.

Tempat yang dihuni Poniem dan anaknya hanya berukuran 2 x 2 Meter, yang terbuat dari kayu bekas dan tenda biru. Lokasi tempat tinggal juga tidak begitu banyak tetangga melainkan dikelilingi hutan – hutan kecil dan tanaman padi. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *