oleh

Rekonstruksi Dituding Pencuri Helm Digelar, Polisi Terbitkan DPO Terhadap 7 Pelaku Lainnya

MEDAN NEWS – JAM 19:18 WIB

Rekonstruksi kasus pembunuhan terhadap dua pria yang dituding sebagai pencuri helm, yakni, Jhony Fernando Silalahi (30) dan Stefan Sihombing (21), di lantai dua gedung Sat Reskrim Polrestabes Medan berlangsung ricuh, Jumat (22/3).

Pantauan di lokasi, sebelum reka adegan berlangsung, puluhan orang dari keluarga dan kerabat korban berdatangan memadati lokasi.

Tidak berapa lama kemudian, keempat oknum satpam Unimed (tersangka) berinisial MAP (22) warga Jalan Sutomo Ujung Gang Yahya Kelurahan Gaharu, Kecamatan Medan Timur, BP (18) warga Pasar IX Tembung Gang Mawar V, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang.

MAK (21) warga Pasar II Barat Gang Berani Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan dan FZ (26) warga Jalan Pancing I, Lingkungan V, Mabar Hilir digiring ke lokasi oleh penyidik satreskrim Polrestabes Medan.

Rekontruksi juga dihadiri kuasa hukum korban dan tersangka dan JPU dari Medan Labuhan digelar.

Baca Juga :  Pasien Melahirkan Diabaikan, Anggota DPRD Obbi : Saya Sangat Menyesalkan Sikap Perawat Rumah Sakit

Saat reka adegan pertama di mana kedua korban yang berboncengan diperankan oleh anggota Reskrim Polrestabes Medan, membuat keluarga para korban berteriak histeris.

Setelah proses reka adegan berlangsung, di mana para tersangka terlihat menganiaya serta memborgol tangan kedua almarhum, membuat keluarga terbawa emosi.

Hingga adegan ke 26, keluarga korban tampak emosi. Saat situasi mulai tidak kondusif, petugas akhirnya menggiring keempat tersangka ke ruang penyidik.

Istri almarhum Jhoni, Friska Purnama Sari br Silaban (26) saat diwawancarai mengatakan jika rekonstruksi tersebut tidak sesuai dengan keterangan saksi mata dan video yang sudah viral.

“Rekonstruksi ini tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Kami minta rekonstruksi diulang, tetapi harus di lokasi kejadian (Unimed),” katanya sembari menangis histeris.

Hal senada juga disampaikan Ibu Jhoni, Romanti br Limbong (55) yang meminta rekonstruksi untuk diulangi di lokasi kejadian (Unimed).

“Harapan keluarga rekonstruksi diulangi di lokasi kejadian. Ini murni pembunuhan berencana. Polisi berusaha menutup-nutupi kejadian. Kenapa 7 pelaku lagi belum ditangkap,” teriaknya saat didampingi suaminya, Efendi Silalahi (56).

Baca Juga :  Soal Marka Jalan, Proses Pengecetan Tidak Sesuai Bestek

Penasehat Hukum korban, Nelson Lumbantoruan SH menjelaskan rekonstruksi sudah dilakukan satu persatu. Namun ada tanda kutip, di rekonstruksi itu banyak kekurangan. Kemudian dari keterangan pelaksanan rekonstruksi tidak ada disebutkan disitu bagaimana meninggalnya korban. Akibat adanya perbuatan apa sehingga korban meninggal.

“Masalah pasal yang dituduhkan kepada tersangka, sepanjang ini masih Pasal 351 Yo 170. Artinya penganiayaan bersama-sama. Yang menjadi pertanyaan, padahal di tempat kejadian sudah ada yang meninggal. Artinya penganiayaan yang mengakibatkan hilang nyawa orang lain itu tidak disebutkan. Apakah itu meninggal karena dibuat atau direncanakan. Paling tidak Pasal 338 sudah diterapkan disitu, namun kami tidak ada melihat itu. Kami Marga Sihombing akan berupaya mendesak penyidik untuk membuka Pasal 338 atau 340,” katanya.

  Sementara itu Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Putu Yudha Prawira melalui Panit Pidum Iptu Toto menjelaskan hari ini dilaksanakan rekonstruksi yang terjadi di Unimed yang dihadiri Penasehat Hukum korban dan tersangka. Tadi ada 26 adegan yang diperagakan.

“Di adegan 24 korban tewas. Saat ini belum ada fakta baru. Rekonstruksi dilakukan di Polrestabes karena faktor keamanan. Tadi sempat mengalami kendala karena keluarga korban sempat tidak terima. Untuk 7 tersangka sudah kita jadikan DPO dan masih dilakukan pencarian sampai tuntas,” katanya. (Tr/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed