TAPTENG NEWS – JAM 9.00 WIB
Warga Desa Huta Tombak Kecamatan Sosor Gadong, Kabupaten Tapanuli Tengah belum bisa menikmati listrik selama sepunuhnya
Desa ini merupakan desa terluas di Tapanuli Tengah bagian selatan, yang berjarak 70 kilometer dari pusat kota Pandan.
Untuk menuju desa, bisa ditempuh dengan menggunakan roda empat dan roda dua. Jalan itu bisa dari desa Siamargarap, dan bisa melalui jalan alternatif lainnya, jalan desa tersebut juga sedikit miring mencapai 50 derajat. Tetapi tidak apa – apa, aman dan bisa dilalui dengan kenderaan roda dua dan memakan waktu selama 2 jam perjalanan.
Kepala Desa Lisber Habeahan menuturkan, warganya baru bisa menikmati listrik sejak tahun 2017. Tetapi tidak memadai, walau di desa itu ada pembangkit listrik dari tenaga genset. Tiap malam masyarakat disini hanya merasakan hidupnya lampu sampai jam 9 malam saja.
“Disini ada 109 KK (kepala keluarga) dan yang terlayani listrik 20 an KK saja, sisanya hanya pakai lampu teplok,” ujar Habeahan .
Lisber Habeahan juga menjelaskan, untuk mengalirkan listrik ke rumah warga hanya dengan menggunakan tenaga diesel. Diesel itu pun tak bisa menerangi rumah warga selama 24 jam, warga Desa Huta Tombak hanya bisa menikmati listrik selama dua jam dalam satu harinya.
“Dieselnya mulai kita nyalakan dari jam 19.00 sampai jam 21.00 WIB,” kata Lisber.
Untuk membiayai bahan bakar diesel tersebut menggunakan dana iuran dari warga, yang setiap KK diwajibkan membayar Rp 40.000 setiap bulannya.
“Satu KK menanggung 2 liter minyak solar untuk satu hari, dan di hari berikutnya warga yang lain. Dalam satu bulan satu KK bisa mengunakan listrik dua kali, itu pun nyalanya hanya dua jam,” ucap dia.
Kades Ini mengungkapkan, jarak antara rumah yang berjauhan jadi kendala yang dihadapi untuk mengaliri listrik ke semua rumah warga. Dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya bisa berjarak sampai 150 meter.
“Soalnya rumahnya berjauhan, makanya kabelnya susah. Tahun depan direncanakan menambah kabel menunggu bantuan panel surya,” tambahnya
Kades ini juga menuturkan, rencananya desa tersebut akan mendapat bantuan listrik dari pemerintah. Nantinya, tiap rumah akan dipasangi panel surya (solar panel) untuk menyuplai listrik. Namun, dia belum mengetahui kapan rencana tersebut akan direalisasikan.
“Kemarin kita dapat lampu jalan untuk percontohan, sudah di pasang PLTS. Tapi belum bisa difungsikan, dan dananya dari dana desa sebanyak 7 unit,” tuturnya.
Warga Desa Huta Tombak Pasaribu (53) berharap desanya bisa dialiri listrik selama 24 jam, sebab anak – anaknya kesulitan belajar jika hanya menggunakan lampu teplok.
“Anak – anak tidak bisa belajar kalau malam, sebab lampu di rumah kami hanya menyala selama 2 jam setiap malam,” kata Pasaribu .
Dirinya pun berharap pemerintah segera mengirim bantuan, agar listrik di desanya bisa menyala selama 24 jam. Aliran listrik selama 24 jam dianggap mampu meningkatkan perekonomian warga Desa Huta Tombak
“Kita juga ingin punya TV, untuk mengetahui informasi di luar,” ucap dia.
Senada juga disampaikan warga lain. Dia mengaku untuk bisa menonton televisi harus menumpang ke rumah kerabatnya yang berada di desa berbeda
“Saya ingin sekali bisa punya listrik yang menyala selama 24 jam seperti yang lainnya, mudah – mudahan pemerintah bisa membantu,” kata warga sekitar.
Selain permasalahan listrik, di desa tersebut juga tak ada sinyal telekomunikasi, untuk mendapatkan sinyal warga desa harus ke bukit yang berjarak sekitar 700 meter.
“Kita harus ke bukit untuk bisa telepon dan SMS,” kata warga ini.
Diketahui bahwa jaringan transmisi listrik negara hanya berjarak satu kilometer dari desa, sementara desa huta tombak ini di posisikan berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Dan merupakan desa tertua di Kecamatan Sosorgadong. (ben)






