Korban Akibat Jambret, Pelaku Diminta Bertanggungjawab Dan di Proses

TAPTENG NEWS – JAM 9.30 WIB
Mengingat pelaku jambret ponsel anak balita di pandan yang terjadi pada tanggal 23 Juli 2019 kemarin yang sempat terlontar hingga mengenai Hendra warga Desa Sitio-tio Hilir, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, status sebagai tukang becak saat mangkal dan mengenai di bagian kepala nya masih keadaan kritis di rumah sakit umum Pandan.
Keluarga korban (Hendra red) sudah terhitung selama tiga hari di rumah sakit umum pandan menunggu semoga cepat pulih terhadap korban, dan meminta kepastian hukum kepada pelaku yang menimpa korban sampai keadaan kritis.
Hal tersebut dikatakan Santi Adi korban warga Desa Sitio-tio Hilir, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Kamis (25/7) kepada awak media.
“Masi kritis dia bang (Hendra red), kondisinya sangat parah pada bagian kepalanya, dia juga sudah di ronsen dan hasilnya juga udah keluar semalam, menurut dari hasil ronsenya dibagian kepalanya parah sebab benturan keras di sebelah kiri dada abang saya itu terjadi penggunpalan darah,” kataYanti.
Yanti katakan, kondisi abangnya bukan makin membaik malah semakin memburuk bahkan semakin parah. “Sudah makin parah abang itu, sampai sekarang belum sadarkan diri,” jelasnya.
Disisi lain Yanti juga mengesalkan dalam kejadian tersebut yang terjadi pada abang nya, sebab Pelaku bernama Krismen Roy Dirman Silitonga (28) warga Santeong Kampung Batak, Kelurahan Pancuran Gerobak, Kecamatan Sibolga Kota, Kota Sibolga sudah keluar dari rumah sakit RSUD Pandan.
“Tadi malam mereka sudah keluar dari RSUD Pandan, keluarganya semalam yang membawa pelaku itu. Kayak enggak ada tanggungjawabnya, kalau lah memang ada niat mereka bertanggungjawab, seharusnya mereka buatlah surat perjanjian, ini malah pigi saja gak ada ucapkan satu katapun,” ungkap Yanti.
Sementara korban selanjutnya akan melaporkan pelaku ke Satlantas Polres Tapteng. “Ya kami mau buat laporan ini dulu, abang kami sudah parah ini, kemarin sudah mau dilaporkan, tapi diminta saksi, nggak tau kami gimana kami ini, orang susahnya kami ini, tolonglah dibantu,” katanya kepada wartawan.
Sementara, Juang Lubis (34) yang merupakan kerabat korban (Hendra) menjelaskan bahwa setelah Hendra tertimpa musibah ini keluarga sudah melakukan pelaporan Lakalantas yang terjadi pada, Selasa (23/07) kemarin, Dia bersama dengan ibu Hendra yakni Rukiah (61) mendatangi Satlantas Polres Tapteng di Sibolga hendak membuat laporan.
“Sudah ke Satlantas Tapteng kami kemarin, tapi diminta mereka (Polisi) saksi, kami mana taulah itu. Tapi hari ini kami coba lagilah buat laporan lagi,” katanya.
Tetapi apa yang terjadi setelah keluarga melakukan laporan ulang ke Satlantas Tapteng, keluarga yang melakukan laporan masih menuai kritikan dari Polisi.
Joni Anggara (25) yang merupakan adik dari Hendra (korban) menuturkan bahwa setelah ia ke lokasi ditabraknya Hendra tepatnya di depan SMP Negeri 2 Pandan, ada seorang pengemudi becak bermotor bersedia memberikan kesaksian.
“Sudah kesitu aku tadi, ada disitu sudah dua tukang becak, mau dia saksi, tapi nggak mau dia kemana-mana, dimintanya biarlah Polisi yang datang kesitu minta keterangannya, itulah katanya tadi,” tuturnya.
Sementara, Kasat Lantas Polres Tapteng AKP Sopian saat dikonfirmasi melalui Telepon genggamnya, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menolak pengaduan.
“Sudah diterima kemaren laporanya, itupun akan saya tanya dulu sudah sampai mana, dan siap yang menerima laporanya,” jelas Kasat Satlantas Polres Tapanuli Tengah melalui Telepon Genggam miliknya. (ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *