SIBOLGA NEWS – JAM 14.00 WIB
Pokmaswas BS Sibolga (Kelompok Masyarakat Pengawas Binas Samudera) menilai Pemko Sibolga masih belum serius memberikan perhatian terhadap upaya penyelamatan ekosistem laut.
Dalam hal tersebut, Sekretaris Pokmaswas BS Kota Sibolga Rahmad Saleh Harahap mengatakan ekosistem laut sangat erat hubungannya dengan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir, karena wilayah kota Sibolga terletak di Geografis Pulau Sumatera
“Kami sudah berupaya melakukan perbaikan, tapi sampai saat ini belum ada dukungan dari Pemerintah Daerah sendiri,” ujarnya seraya menyebut mayoritas masyarakat Sibolga ini umumnya nelayan, tapi ekosistem laut di Pantai Barat Sumatera sudah rusak parah. Senin (21/10).
Ia juga menuturkan, biota laut seperti terumbu karang dan padang lamun yang ada di daerah pesisir Pantai Barat Sumatera telah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan eksploitasi biota laut yang tidak terkendali.
“Apalagi penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan, masih ditemukan beroprasi,” katanya.
Selain itu, terumbu karang di Pantai Barat Sumatera sudah hancur berantakan, itu karena maraknya penggunaan pukat trawl, bom ikan dan jaring tangkap udang alias jaring Malong kalau istilah di sini (Sibolga red).
“Saat ini, hasil tangkapan ikan nelayan tradisional di Kota Sibolga mengalami penurunan dan berdampak pada perekonomian masyarakat nelayan,” sebutnya
Rahmad juga menyebut volume tangkapan ikan nelayan tradisional khususnya di Sibolga, sudah semakin menurun. Mengatasi permasalahan ini, harus ada upaya bersama merekontruksi ekosistem laut.
“Sehingga, nelayan tradisonal dapat lebih meningkatkan produksi ikan dari hasil tangkapannya. Dengan demikian, Kota Sibolga dapat mempertahankan julukannya sebagai Kota Ikan,” terangnya. (riz)






