Usaha Aep Sutisna Pedagang Bendera Musiman Asal Garut, Mengais Rezeki di Tapteng

Daerah, Tapanuli Tengah1201 Dilihat

TAPTENG NEWS – JAM 13.00 WIB

Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus, selalu menjadi ladang rezeki bagi para penjual bendera musiman setiap tahunnya. Termasuk, mereka yang kerap berjejer di pinggiran jalan Kota Pandan, Tapteng

Uniknya, tidak semua dari penjual itu adalah orang asli Tapteng. Ada yang sengaja datang dari luar daerah, demi meraup pundi-pundi rupiah menjelang HUT Kemerdekaan RI.

Salah satu penjual asal Garut yang berjualan di Kota Pandan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara mengaku dirinya sengaja datang dari Garut ke Tapteng untuk berjualan bendera.

Pria paruh baya ini terlihat sibuk mengeluarkan kain dari goni yang dibawanya. Sembari mengusap peluh, pria itupun mengambil tali nilon dan mengikatkannya di satu pohon ke pepohonan yang lain di pinggiran Jalan Lintas Padangsidempuan.

Usai mengaitkan beberapa tali, pria itu lantas menggantungkan kain yang ternyata sebuah bendera merah putih, di atas tali yang sudah dia siapkan tadi.

Tak banyak memang pedagang di sana, namun Aep lah salah satu pedagang yang rela meninggalkan anak dan istri hanya untuk mencari rezeki di kampung orang.

Aep mengaku, dari beberapa model bendera yang dia jual, dia tak pernah mematok harga terlalu tinggi. Sebab, menurut Aep, ini bisa menurunkan minat masyarakat untuk membeli.

“Kalau harga setiap bendera dan umbul-umbul masih bisa terjangkau, paling murah seharga 5.000 rupiah hingga 300 ribu rupiah,” ungkapnya saat ditemui, Senin (9/8/2021)

Menurutnya, konsumennya sebagian besar dari kalangan instansi pemerintahan. Dimana, mereka membeli bendera berukuran 2×1 Meter untuk dipajangkan di sekitaran kantor mereka.

“Ada bendera model biasa, ada juga umbul-umbul bentuknya panjang dan melebar. Jadi harus dipajangkan lah, biar pembeli dari kejauhan juga bisa melihat modelnya seperti apa,” ujar Aep.

Bapak 9 anak ini mengaku, sudah biasa berjualan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan antar Provinsi dia tempuh demi menghidupi keluarganya.

“Udah biasa dek, karena menjelang 17 Agustus ini, kami sempatkan menjual bendera dulu,” sebutnya

Aep juga mengaku, model bendera yang unik dan bersablon, sebagian besar adalah hasil karyanya sendiri.

“Kalau bendera saya jahit sendiri, ada juga pesanan. Kalau sablonnya kita buat dari kota Bandung,” ucapnya.

Menurut Aep, hasil penjualan bendera untuk tahun ini mengalami penurunan yang cukup drastis bila dibandingkan tahun lalu. Seingatnya, belum lagi tiba ‘hari kemerdekaan’, bendera dagangannya sudah lumayan habis dibeli orang.

Begitupun, Aep tetap bersyukur. Di tengah kesibukkannya, dia tak lupa menjalankan perintah Agama. Bahkan, setiap adzan berkumandang, Aep langsung bergegas menuju masjid terdekat untuk menunaikan sholat berjamaah.

Aep pun mengaku, usai bulan Agustus, dia akan pulang ke kampung halamannya di Garut, Jawa Barat. Dia sudah kangen dengan anak dan istri yang menunggunya.

Di kota kelahirannya nanti, Aep akan menyambung hidup dengan mencari kerjaan lain, yang penting bisa menafkahi dan memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

“Habis bulan Agustus ini, saya kembali ke kampung, di sana nanti saya juga akan berjualan lagi,” ungkapnya. (ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *