Mahasiswa memiliki berbagai peran dalam masyarakat, salah satunya dikenal sebagai agent of change (agen perubahan). Melalui pengetahuan, ide, dan keterampilan yang dimiliki, mahasiswa bisa menjadi lokomotif kemajuan. Dalam melakukan berbagai hal sebagai penggerak perubahan ke arah yang lebih baik.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Karlina Sari Anggita Daulay (210902110), Lusti Ronatama Sihaloho (210902010), Irna Hafizah Tanjung (210902064), Indah Lestari Sihombing (210902042), Hasbul Wafi (210902086), dan Meis Melkian Tobay (210902120).
Merupakan Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Melaksanakan Praktikum untuk Ujian Tengah Semester pada Mata Kuliah Metode Pekerja Sosial. Praktikum ini dilakukan pada 1 April 2022 yang berlokasi di Panti Asuhan Rapha-el, Perum Simalingkar No.4-6, Jl. Rotan Raya No.9, Simalingkar A, Kec. Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20141. Dibawah bimbingan pak Fajar Utama Ritonga, S.sos, M.Kesos. yang membimbing jalannya kegiatan ini.
Dari informasi yang diperoleh, kami mengambil judul tentang Penerapan Metode Pembinaan Anak Panti Asuhan Rapha-el. Sebelum membahas tentang panti Rapha-el, kita terlebih dahulu harus mengetahui apa itu metode casework, metode casework atau biasa disebut Pekerja Sosial dengan Individu (PSI) adalah serangkaian pendekatan dan teknik pekerjaan sosial yang ditujukan untuk membantu individu-individu yang mengalami masalah secara perseorangan atau berdasarkan relasi satu persatu.
Dari hasil penelitian kami di lapangan, kami mendapat beberapa fakta yaitu pendiri panti, Bapak Pendeta O. Simangunsong mendirikan panti asuhan tersebut karena rasa kemanusiaan kepada anak-anak dari korban bencana tsunami yang ada di Aceh dan Nias pada tahun 2006 silam. Panti asuhan Rapha-el merupakan tempat anak anak korban bencana tsunami yang memeluk agama Kristen. Dari penuturan pemilik panti, jumlah anak yang diasuh di panti tersebut sekarang ini berjumlah 39 orang anak, dimana anak anak tersebut berkisar umur 3-19 tahun. Anak-anak dipanti asihan Rapha-el disekolahkan dan diberi pembelajaran karakter. Dulu sebelum covid-19 banyak para pengajar yang mengabdi di panti tersebut tetapi, sekarang ini hanya mahasiswa yang melakukan penelitian dan praktik kerja lapangan(PKL) saja yang diperbolehkan datang ke panti tersebut.
Dari penuturan ibu panti, anak-anak yang mendiami panri asuhan sekarang kebanyakan anak yang memiliki trauma baik itu karena broken home ataupun ingatan masa lalu mereka terkena musibah tsunami. Namun tidak anak-anak berlatar belakang tersebut saja, ada juga orang tua yang menitipkan anaknya di sana karena alasan anak tersebut nakal.
Di panti asuhan Rapha-el ini, dilakukan beberapa metode penyembuhan trauma yang dialmai oleh anak. Kebanyakan metode yang digunakan dalam mengatasi trauma dalam diri anak anak tersebut dengan cara sistem ibadah bersama, mengajak para anak menggambar, dan saling membantu satu sama lain dalam hal pekerjaan di dalam panti tersebut.
Dari analisis dan penelitian lapangan yang kami amati, kami membandingkannya dengan jurnal “pelayanan sosial anak (studi kasus pada panti asuhan anak “seroja” bone)” oleh Patriot Haruni dari Universitas Hasanuddin Makassar. Disana dijelaskan bahwa menurut PSAA (Panti Sosial Asuhan Anak) dijelaskan bahwa tujuan dari panti asuhan adalah
1) Menyediakan pelayanan kepada anak dengan cara membantu dan membimbing anak agar menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak
2) Memenuhi kebutuhan anak akan kelangsungan hidup untuk tumbuh dan berkembang serta memperoleh perlindungan antara lain dengan menghindarkan anak dari kemungkinan keterlantaran pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosialnya sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara wajar.
Teori yang digunakan dalam penelitian di panti asuhan Raphael adalah teori dari Zastrow. Penggunaan teori zastrow ini dalam penelitian dimulai dari beberapa tahapan penyelasaian masalah dimulai dari tahapan assesment, perencanaan program, intervensi, evaluasi program dan terminasi.
Namun terdapat perbedaan yang jelas dalam penerapannya dilapangan. Dalam kasus Panti asuhan Raphael, tidak terdapat pekerja sosial yang memiliki latar belakang pelatihan/pendidikan khusus sebagai pekerja sosial, namun hanya sebagai masyarakat biasa yang merasakan sebuah permasalahan sosial saja. Dalam penggunaan teori zastrow pun, tahapan-tahapan yang digunakan tidak secara sistematis melainkan acak atau berdasarkan perasaan iba saja.
Dalam menganalisis perkembangan atau permasalahan yang dihadapi anak asuh, pemilik panti asuhan hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar anak asuh saja, seperti makan dan minum, tempat tinggal serta pendidikan hingga jenjang SMA. Pemilik panti asuhan tidak memiliki basic mengenai penerapan metode-metode dari teori Zastrow tersebut, dan hanya dimodali dengan rasa prihatin sehingga dalam mengamati perkembangan anak asuh hanya diandalkan pada penilaian visual saja.
Dalam upaya agar tercapainya tujuan dari praktikum ini, adapun hasil wawancara yang kami peroleh mengenai tahapan Metode Pekerja Sosial yang dilakukan oleh pemilik panti asuhan, sebagai upaya untuk memperbaiki keberfungsian sosial dari kelompok sasaran perubahan yang mempunyai masalah yang kemudian kami bandingkan dengan metode yang telah kami pelajari, yakni
1. Tahap Asessment/pengkajian
Pada tahap ini pemilik panti asuhan mencari tahu masalah yang melatar belakangi berdirinya panti asuhan tersebut, yakni adanya permasalahan serius akibat dari bencana tsunami di nias. Dari permasalahan tersebut muncul kekhawatiran mengenai hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh anak-anak korban bencana. Dari langkah tersebut berdiri lah panti asuhan Raphael sebagai sebuah hasil dari identifikasi masalah yang kemudia berekmbang hingga saat ini. Pada tahapan ini pula kami memperoleh informasi mengenai tujuan-tujuan serta upaya-upaya yang akan dilakukan oleh panti asuhan tersebut dalam memecahkan masalah sosial yang terjadi.
2. Tahap Perencanaan Program
Pada tahapan ini, panti asuhan melakukan pemilihan strategi, teknik dan metode yang didasarkan pada trauma atau masa lalu setiap anak. Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan yang dapat terjadi. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk keberhasilan dalam menangani emosional setiap anak.
3. Tahap Intervensi
Pada tahapan ini, panti asuhan mengklasifikasikan permasalahan yang dihadapi dalam melakukan pekerjaan sosial di panti asuhan tersebut. Panti asuhan berusaha mengatasi permasalahan yang berbeda beda pada setiap anak. Dari mulai mengajak anak untuk berbagi emosi dalam dirinya, mencurahkan emosi dalam gambar, bermain bersama, bernyanyi lagu rohani, dan lain sebagainya. Banyak cara-cara yang diberikan panti asuhan agar masalah atau trauma yang dihadapi sang anak dapat teratasi.
4. Tahapan Evaluasi
Pada tahapan ini, ibu panti dan semua anggota keluarga yang bertugas menjaga anak anak panti akan melakukan evaluasi setiap harinya. Mereka akan memperhatikan perkembangan emosional dari anak tersebut. Akan menanyakan kabar anak-anak panti pada setiap harinya, agar mengetahui sebagaimana metode penanganan trauma berjalan dengan baik atau tidak pada anak.
5. Tahap Terminasi
Pada tahapan terminasi ini, pemilik panti asuhan akan memutuskan interaksi terhadap klien, yakni anak asuh ketika anak asuh telah berusia cukup dewasa. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan kebebasan bagi si anak asuh dalam menentukan arah jalan hidupnya dengan bekal pendidikan dan pembinaan yang diterima pada saat berada di panti asuh tersebut.
Panti asuhan merupakan suatu lembaga yang sangat populer untuk membentuk perkembangan anak-anak yang tidak memiliki keluarga ataupun yang tidak tinggal bersama dengan keluarga. Oleh sebab itu alangkah baiknya panti asuhan Rapha-el menggunakan tenaga pekerja sosial dalam menjalankan panti asuhan tersebut. Karena pekerja sosial lebih paham dalam membantu dan membimbing anak anak kearah perkembangan pribadi yang wajar serta mempunyai keterampilan kerja, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat. Walaupun dapat dilihat bahwa tanpa pekerja sosial panti asuhan dapat berdiri dengan baik, tetapi lebih baik lagi menggunakan pekerja sosial supaya lebih pas lagi sasaran penyembuhan bagi klien terkhusus pada anak-anak sesuai dengan kebutuhannya.
Di Akhir praktikum, kami melakukan berbagai kegiatan bersama adik-adik di panti asuhan Rapha-el, seperti bercengkrama dengan adik-adik panti, bermain game tebak gaya, bernyanyi, serta memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka, kami juga memberi hadiah kepada yang berani tampil kedepan. Dan sebagai penutup kami membagikan snack yang kami bawa kepada adik-adik panti asuhan. (***)












