Lubuk Larangan Binaan PT Agincourt Resources (PTAR) Bantu Prekonomian Warga Warisan Leluhur Yang Wajib Dijaga

Daerah245 Dilihat

TAPTENG NEWS – Sungai Sibabangun yang panjangnya 6 km. Dimana dasar sungai yang dipenuhi bebatuan menjadi pembantu beningnya air yang mengalir. Kesan nyaman dan indah akan menjadi magnet yang membuat seseorang bisa berlama-lama menikmati air sungai yang mengalir paranoramah alam yang indah yang tidak tergantikan saat mata memandang, Selasa (30/4/2024).

Yang terletak di Kelurahan Sibabangun Tapanuli Tengah. Di sepanjang pemukiman penduduk mengalir sebuah sungai yang sering di sebut waraga sungai Sibabangun. Sungai ini menjadi kebanggaan dan bagian penting warga Sibabangun. Bersumber dari dua anak sungai yakni, sungai Aek Hutagurgur dan sungai Aek Mardugu, yang mengalir dari hutan Batangtoru.

Sungai Sibabangun menjadi sentral aktivitas mandi, cuci kakus (MCK) dan sumber utama pasokan air bersih. Disepanjang sempadan sungai banyak ditemukan sumur yang berfungsi sebagai pengumpul air. Pagi maupun sore hari, gadis-gadis remaja akan mendatangi sumur-sumur kecil ini, mengambil air dengan memakai ember untuk keperluan aktivitas rumah tangga. Usai itu, mereka akan berendam ria menikmati sejuk dan beningnya air sungai Sibabangun.

Ikan Jurung di lubuk larangan saat di berimakan oleh warga pengunjung

Dukungan ini merupakan salah satu upaya PTAR bersama masyarakat dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal lubuk larangan di wilayah sekitar tambang. Lubuk larangan merupakan budaya turun temurun dan masih dipertahankan hingga saat ini, sebagai bentuk upaya konservasi alam dan menjaga kelestarian sungai.

Menyadari begitu vitalnya peran sungai Sibabangun bagi keberlangsungan hayat hidup orang banyak, warga berupaya mengendalikan daya rusak sekaligus menjaga kelestarian sungai. Alur sungai Sibabangun ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dilindungi. Budi daya ikan melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan menjadi prioritas utama program pelestarian ekosistem sungai ini.

Kearifan lokal lubuk larangan menjadi peraturan adat yang mengikat warga untuk tidak membuang limbah rumah tangga maupun jenis bahan cair berbahaya ke sungai. Walau tidak terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan, jadilah sungai Sibabangun sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dilindungi.

“Dijadikannya alur sungai Sibabangun sebagai kawasan budi daya ikan dilatarbelakangi keinginan warga untuk melestarikan ekosistem sungai,” ujar Parsaulian Hutagalung, pengurus lubuk larangan.

Kearifan lokal yang telah menjadi budaya dua puluh tahun belakangan ini melahirkan hal yang tak terduga. Budi daya ikan melalui lubuk larangan ini berhasil mengharmonisasikan antara ekonomi masyarakat dengan keinginan melestarikan sumber daya air. Hasil budi daya ikan menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang sangat menakjubkan. Panen ikan yang dilakukan satu kali dalam setahun, menghasilkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Kawasan pengelolaan sumber daya ikan juga mampu menarik wisatawan lokal. Proses pembukaan lubuk larangan menjadi moment yang selalu dinanti oleh penggila pancing mania. Dengan hanya selembar pecahan uang Rp100 ribu, anglerisme dapat menyalurkan hobby sekaligus mengadu hoki seharian penuh. Terbukti, budi daya ikan melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan sangat efektif dan efesien. Budi daya ikan dengan memanfaatkan alur sungai tidak memerlukan biaya besar, sebagaimana pembudidayaan ikan di tambak maupun kolam. Hanya dengan menjaga kualitas air sungai, ketersediaan makanan yang dibutuhkan ikan seperti fitoplankton dan zooplankton, akan terpenuhi.

Oleh Karna itu, PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, mendukung kegiatan lubuk larangan di Sungai Garoga, Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Dukungan ini merupakan salah satu upaya PTAR bersama masyarakat dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal lubuk larangan di wilayah sekitar tambang. Lubuk larangan merupakan budaya turun temurun dan masih dipertahankan hingga saat ini, sebagai bentuk upaya konservasi alam dan menjaga kelestarian sungai.

Selain memberikan bibit ikan, PTAR juga melakukan penanaman sejumlah 1.000 bibit pohon produktif, seperti durian, alpukat, trembesi, mangga, manggis, waru, juga bambu di pinggir Sungai Garoga. Upaya ini bertujuan memitigasi kerusakan aliran sungai dan abrasi di Desa Garoga dan sekitarnya, juga menekan risiko luapan Sungai Garoga.

Sungai Sibabangun panjang 6 km

Lubuk Larangan adalah kearifan lokal yang perlu dijaga sebagai upaya untuk menjaga kelestarian sungai dari pencemaran, perusakan, dan eksploitasi berlebihan.

“Selain itu, lubuk larangan juga dapat mendorong perekonomian desa dari segi pariwisata. Di Desa Garoga yang didukung oleh PTAR ini, bisa menarik masyarakat dari daerah lain untuk berkunjung, karena selain lokasinya strategis, sungainya pun bersih dan jernih,” ungkap Tua Parlauangan Simatupang.

Sementara itu, Masdar Muda, Manager Community Relations PTAR mengatakan, dukungan yang diberikan PTAR bertujuan untuk melestarikan adat lubuk larangan dan pengembangbiakan ikan jurung sebagai spesies endemik Tapanuli Selatan dan ikan air tawar lainnya sebagai bentuk konservasi ekosistem dan biodiversity sungai.

“Kami berharap, program ini akan mendorong terbangunnya kesadaran masyarakat dalam melsetarikan ekosistem dan keanekaragaman hayati sungai, secara ekonomi meningkatkan pendapatan desa, serta mendorong masyarakat desa untuk mengembangkan wisata desa dan promosi potensi desa,” jelasnya.

Makanan ikan yang tersedia secara alami ini memiliki nilai gizi yang tinggi, mudah dicerna dan tidak mengandung racun maupun zat anti nutrisi. Berbeda dengan pakan buatan, selain membutuhkan biaya besar, penurunan kualitas air dan tingkat pencemaran terhadap kultur air akan lebih tinggi. Pengurus dan anggota kelompok lubuk larangan hanya menjaga kualitas air, mikro organisme yang dibutuhkan ikan akan tersedia. Pembelian pakan buatan tidak lagi harus dilakukan.

“Biaya yang diperlukan hanya untuk membeli bibit. Kita tidak pernah memberi pakan tambahan. anggota kelompok hanya melaksanakan peraturan adat yang telah kita sepakati seperti, tidak membuang limbah rumah tangga dan bahan cair yang menjadi sumber penyakit bagi ikan,” sebut Ngatino, pengurus kelompok lubuk larangan lainnya.

Pola privatisasi tradisional lubuk larangan yang menjadi kearifan lokal dan sudah berlangsung puluhan. Pelestarian ekosistem sungai melalui kearian lokal lubuk larangan. Lubuk larangan adalah bagian dari manifestasi bentuk pemanfaatan alam sekaligus penjagaan dan perawatan ekosistem lingkungan hidup.

“Disamping menyeimbangkan stabilitas dan produktivitas ekosistem sungai, kearifan lokal lubuk larangan sangat efektif dan efesien untuk kegiatan budi daya ikan, Kearifan lokal lubuk larangan harus tetap dipertahankan untuk kelestarian ekosistem sungai dan upaya peningkatan ekonomi kemasyarakatan,” kata Parlauangan.

Tidak hanya sekedar mimpi, suaka mini yang bertujuan untuk perlindungan dan pelestarian ini, berhasil meningkatkan kesejahteraan warga. Panen budi daya ikan yang dilaksanakan satu kali dalam setahun, menjadi panggung suka cita dan pengungkapan rasa syukur atas karunia Sang Khalik. Hasil panen akan di jual dan sebahagian lagi di bagikan kepada warga untuk dinikmati bersama keluarga.

Selain di Desa Garoga, PTAR juga turut mendukung budaya lubuk larangan yang ada di Desa Batu Horing, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada Juni 2022, PTAR melepas 15.000 ekor bibit ikan jurung dan 10.000 bibit ikan nila ke lubuk larangan Sungai Batu Horing.

PENULIS: RIZKI ANANDA TANJUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *