Indonesia Dukung Perdamaian Wilayah Sahel, Afrika

oleh -64 views
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI AM Fachir dalam Pertemuan Tingkat Menteri Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai G5 Sahel Joint Force (G5S JF), di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat

JAKARTA NEWS – JAM 12.59 WIB

Pendekatan keamanan saja tidak cukup untuk atasi penyebab konflik. Penegasan ini diutarakan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI AM Fachir dalam Pertemuan Tingkat Menteri Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai G5 Sahel Joint Force (G5S JF), di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Kamis (28/3/2019).

Di hadapan anggota DK PBB dan negara anggota G5 yang hadir, Wamenlu Fachir menceritakan pengalaman Indonesia dalam penanganan terorisme melalui pelatihan di Jakarta Centre for Law and Enforcement Cooperation (JCLEC), dan upaya Polri berkolaborasi dengan tokoh agama serta masyarakat dalam mengangani aktivitas militan sekaligus melakukan proses deradikalisasi.

Pada kesempatan tersebut, Wamenlu Fachir juga menegaskan dukungan Indonesia untuk menciptakan perdamaian di wilayah Sahel, termasuk inisiatif G5S JF. Terkait itu, ia menyampaikan tiga poin penting, berkaca dari pengalaman Indonesia dalam mengatasi terorisme.

Poin pertama yang disampaikan adalah perlunya mencapai kemajuan konkret di lapangan. Hal ini penting guna memastikan kredibilitas G5S JF. Untuk itu, operasionalisasi komponen polisi G5S JF sangat diperlukan, guna memastikan operasi dan tindak lanjut yang efektif, termasuk proses peradilan.

Poin kedua adalah pentingnya peningkatan kapasitas, termasuk pengumpulan informasi intelijen, penanganan violent extremism dan pendanaan kelompok ekstrimis, serta pengamanan perbatasan.

Terakhir adalah membangun kepercayaan masyarakat. G5S JF harus mampu memberikan perlindungan dan bantuan kepada masyarakat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ajakan kelompok ekstrimis.

“Memenangkan hati dan pikiran masyarakat merupakan aspek terpenting dan menjadi dasar dalam mengalahkan terorisme,” tutur Wamenlu Fachir.

Lebih lanjut Wamenlu Fachir menegaskan pula bahwa upaya penanganan terorisme harus dibarengi dengan upaya mengatasi akar masalah, termasuk memajukan pembangunan dan moderasi.

Selain itu, peningkatan kapasitas negara sehingga dapat hadir dan memberikan layanan dasar kepada masyarakat merupakan langkah penangkalan terorisme yang utama.

Ministerial Meeting mengenai G5S JF ini merupakan inisiatif Prancis dan Burkina Faso, guna membahas dukungan yang dapat diberikan kepada G5S JF.

G5S JF sendiri merupakan inisiatif lima negara, yaitu Mali, Burkina Faso, Niger, Chad, dan Mauritania, guna memastikan keamanan di wilayah Sahel, khususnya mengatasi terorisme dan kejahatan terorganisir. (jpp/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *