Dinilai Mubazir, Pembangunan SAL di Jalan Kenanga Di Protes Warga

Daerah, Sibolga2370 Dilihat

SIBOLGA NEWS – JAM 09.30 WIB

Pengalokasian dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada pembangunan Saluran Air Limbah (SAL) di Lingkungan I Kelurahan Aek Parombunan, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga diprotes warga.

Pasalnya, pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan tersebut terkesan asal – asalan. Sehingga, tokoh masyarakat setempat, Khairan Purba bersama warga lainnya melakukan protes saat pengerjaan proyek tersebut.

Kahiran Purba mengatakan, Rabu (13/11) kepada Tapanuli News 24 Jam, bahwa pembangunan Saluran Air Limbah (SAL) senilai Rp 426.821.000 tahun anggaran 2019 itu selain diduga dikerjakan asal jadi alias tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Ironisnya lagi, pasir yang dipakai dari aliran sungai Gang Kenanga berwarna kuning dan kasar. Pengerjaan pondasinya tanpa semen dasar. Besi, tulang sebagai penahan lantai asal diletakkan pada letakan bahwa tanpa ada ganjalan sebagai penahan. Ketebalan tutup atas 5-6 cm seharusnya ketebalannya 12 cm.

Akibat menggunakan sirtu dan pasir dari aliran sungai Gang Kenanga dia memperhitungkan bangunan ini tidak akan bertahan lama alias mubazir. Pembangunan SAL pada bahu jalan salah satu ruas jalan utama lintasan di jalan ini tampak naik turun yang tidak dirapikan.

“Kami menilai pengerjaan pemasangan cetakan beton paritnya pada bagian dasar kurang rapi, secara kasat mata dudukan dasar beton paritnya tidak rata. Pekerjaannya terkesan sia-sia, sebab yang mengerjakan proyek ini sepertinya lebih mengutamakan keuntungan yang besar daripada mengutamakan kualitas dimana campuran semen dengan pasir diduga 1 banding 7. Untuk itu, kami sebagai warga di lingkungan ini meminta kepada aparat penegak hukum agar mengusut proyek tersebut karena pengerjaannya terkesan asal jadi,” ucap Khairan Purba.

Khairan Purba mengeluhkan, meskipun pemerintah mengalokasikan dana untuk pembangunan SAL di jalan ini, pelaksanaannya hendaknya disesuaikan dengan petunjuk teknis (Juknis).

“Sebagai warga, kami mengaku curiga terhadap pelaksanaan di lapangan. Koordinator KSM di lapangan niatnya hanya untuk mengambil kesemapatan demi keuntungan pribadi ketimbang keuntungan orang banyak,” ucapnya. (riz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *