Ibu-ibu Mendatangi Kantor Kelurahan Lubuk Tukko Menyampaikan Kekesalan Mereka Terkait Data Penerima Bantuan Yang Di Duga “Siluman” TAPTENG NEWS – JAM 15.00 WIB
Puluhan ibu-ibu warga Pardagangan, Kelurahan Lubuk Tukko, melakukan aksi protes terhadap kebijakan data bantuan sembako dari Pemkab dan Zakat dari BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) sebesar Rp 200 ribu yang dibagikan di Kantor Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada Jum’at (1/5).
Mereka menuntut pembagian sembako dan zakat tersebut tidak sesuai dan dianggap sebagai pemanfaatan oknum tertentu. Pasalnya, data yang keluar merupakan dari kalangan orang mampu, memiliki rumah besar dan bahkan ada yang sudah dapat PKH serta Bansos dari pemerintah.
Seorang warga Lingkungan I, Boru Hutagalung (penjual pecal) mewakili ibu-ibu tersebut, mengatakan, sangat kecewa. Ia mengungkapkan, beberapa waktu lalu mereka sudah dilakukan pendataan untuk mendapatkan bantuan. Akan tetapi data yang keluar tidak sesuai.
Boru Hutagalung juga menyebut, ada salah seorang warga Lubuk Tukko yang juga melakukan pendataan terkait bantuan ini.
“Ada itu kemarin si (laki-laki) yang mendata ini. Makanya yang keluar dari keluarga mereka rata-rata, tengok bapak lah (sambil menyebut nama-nama tersebut),” ungkap Boru Hutagalung dan diamini oleh ibu-ibu yang hadir dengan penuh kekesalan.
Melihat kondisi ini, Lurah Kelurahan Lubuk Tukko, Hj. Sarrah Nasution, kepada Tapanuli News 24 Jam, mengaku sangat prihatin dan bahkan tidak menyangka data yang keluar seperti itu.
Selain itu, Sarrah juga mengaku bahwa data yang keluar sebagian diluar dari data yang di usulkan oleh Kepling dan Lurah.
“Inikan pembagian zakat, zakat tidak bisa dimain-mainkan, harus Mustahaqnya (orang-orang yang berhak menerima zakat). Jadi data yang keluar ini sebahagian tanpa sepengetahuan kita, data yang keluar sekarang ini berbeda dengan data yang kita usulkan, kita tidak tau siapa yang mendata ini. Bapak cari sendirilah siapa yang mendata itu, saya tidak berani menyebutkannya, gak ada koordinasi sama Lurah,” ungkapnya.
Untuk penerima bantuan kali ini, jelas Sarrah, ada yang Mustahaq dan ada yang tidak. Namun begitu, pihaknya tetap menyalurkan bantuan tersebut karena warga sudah terdata di BAZNAS.
“Bagi masyarakat Mustahaqnya itu akan kita salurkan kalau ada lagi Kouta nya nanti, Tolong agar bersabar,” ucapnya dengan nada sedih.
Kemudian, saat ditanya tentang data yang keluar merupakan data siluman, Sarrah tidak berani menyimpulkan bahwa data tersebut gelap (Siluman). Alasannya, karena yang di data yang keluar itu ada juga diantaranya yang di data oleh Kepling ataupun Kelurahan.
“Tetapi diantara sekian data yang mendapat itu, banyak juga yang tidak kita data dan banyak orang mampu yang masuk terdata. Bahkan ada yang sudah terdaftar PKH masih tetap mendapat,” bebernya.
“Tapi ya, karena kita mengikuti apa yang ada di sini, itu yang kita salurkan dan terpaksa kita panggil namanya. Kalau dia (penerima) merasa malu dia kaya, karena ini adalah jatahnya orang fakir miskin, dia tidak akan mau menerima dan akan digantikan dengan orang lain, tapi saya lihat di masyarakat ini semua mengaku miskin, kalau sudah masalah bantuan ini,” sambungnya.
Sarrah terus terang mengaku bahwa pihaknya kewalahan karena Kepling yang di salahkan, padahal kata Sarrah Kepling tidak tahu apa-apa tentang data (Siluman) ini.
“Tapi okelah, yang penting saya berharap, bagi yang tidak dapat hari ini nanti akan ada lagi bantuan dari pemerintah menyusul. Karena inikan zakat sama sembako kan. Akan ada lagi masuk sembako, itu lebih banyak lagi nanti. Jadi saya harap, bersabar lah dulu masyarakat bagi yang tidak masuk datanya hari ini,” harapnya.
“Meski begitu, kita juga sudah menyalurkan semua bantuan yang ada,” imbuhnya.
Amatan di lokasi, beberapa warga yang kurang mampu terlihat membawa KK nya kembali, berharap untuk mendapatkan bantuan tersebut.
“Siapa tau ada nama kami didaftar yang diusulkan sebelumnya itu, mana tau dapat kami,” timpal Sakdiah Simatupang warga Lingkungan I. (ful)
Tidak ada komentar