Agustus 2025, Kota Sibolga Inflasi 0,81%

Sibolga795 Dilihat

SIBOLGA NEWS – Badan Pusat Statistik Kota Sibolga mencatat pada bulan Agustus 2025 terjadi inflasi sebesar 0,81 persen (m-to-m) dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 110,40 pada Juli 2025 menjadi 111,29 di Agustus 2025.

Berdasarkan siaran pers yang dilihat dari situs resmi Badan Pusat Statistik Kota Sibolga kondisi ini berbeda dibandingkan Agustus 2024, dimana terjadi deflasi sebesar 0,22 persen. Kemudian secara tahunan (y-on-y), terjadi inflasi sebesar 3,72 persen, dan secara tahun kalender (y-to-d) terjadi inflasi sebesar 2,54 persen.

Dari data tersebut, kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan (m-to-m) terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 2,00 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,75 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 0,67 persen dan memberikan andil inflasi 0,05 persen.

Kemudian untuk kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 0,53 persen dan memiliki andil inflasi 0,03 persen, dan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi tahunan (y-on-y) terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 6,82 persen, dengan andil inflasi sebesar 2,49 persen.

Tak hanya itu, di kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 9,21 persen dan memberikan andil inflasi 0,69 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 3,86 persen dan memiliki andil inflasi 0,38 persen.

“Secara bulanan, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah cabai merah, bawang merah, beras, emas perhiasan, dan sawi hijau. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah tomat, susu bubuk, bawang putih, bensin, dan daun singkong,” tulis BPS Sibolga dalam siaran pers yang dikutip wartawan pada Selasa (9/9/2025).

Sementara secara tahunan, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah emas perhiasan, beras, tomat, bawang merah, dan ikan cakalang. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah cabai merah, bayam, kangkung, bensin, dan daging babi.

Menurut pihaknya, tercatat 5 kota dan 3 kabupaten mengalami inflasi bulanan (m-to-m) di Provinsi Sumatera Utara. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Labuhanbatu, yaitu sebesar 2,09 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Padangsidimpuan, yaitu sebesar 0,31 persen. (rizki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *