Dampak Konflik Iran–AS/Israel, Harga Minyak Goreng di Sumut Mulai Naik hingga ke Pasar Tradisional

Sumut464 Dilihat

SUMUT NEWS – Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan AS/Israel mulai memberikan dampak nyata terhadap meja makan masyarakat di Sumatera Utara.

Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat mendekati level 120 dolar AS per barel memicu efek domino pada komoditas minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya, termasuk minyak goreng curah.

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa lonjakan harga CPO dunia saat ini didorong oleh ekspektasi pasar bahwa mahalnya minyak mentah akan meningkatkan permintaan CPO untuk bahan baku biodiesel.

Harga CPO global tercatat menguat ke level 4.570 ringgit per ton, melonjak signifikan dibandingkan posisi akhir Februari yang masih berada di kisaran 4.000 ringgit per ton. Kenaikan ini langsung merembes ke harga eceran minyak goreng di Sumut.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga minyak goreng curah di Sumut naik dari Rp19.200 menjadi Rp19.450 per kilogram hari ini. Namun, di beberapa titik, kenaikan terjadi jauh lebih tajam.

“Jika ditelusuri lebih dalam, kenaikan di lapangan berkisar antara Rp500 hingga Rp1.500 per kilogram. Kenaikan tertinggi mencapai Rp1.500 terjadi di Pasar Brayan, Kota Medan, dan Aek Habil, Kota Sibolga. Sementara di Pasar Petisah Medan, kenaikan terpantau sekitar Rp500 per kilogram,” kata Gunawan, Selasa (10/3/2026).

Penjualan minyak goreng kemasan di pasar Tradisional.

Gunawan menekankan bahwa kenaikan harga saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal daripada sekadar dinamika pasar domestik.

Adanya tarikan permintaan ekspor yang kuat seiring kenaikan harga global membuat produsen harus membagi fokus antara pasar internasional dan kebutuhan produksi dalam negeri.

Analisis penyebab kenaikan yaitu harga CPO mengekor pada fluktuasi minyak mentah dunia akibat perang, permintaan minyak goreng yang secara alami meningkat selama Ramadan hingga Idulfitri, serta minyak goreng menjadi satu-satunya komoditas sembako yang terdampak langsung secara signifikan oleh eskalasi perang di Timur Tengah.

Pelaku pasar dan masyarakat diimbau untuk mewaspadai pola kenaikan harga yang diprediksi akan semakin tajam saat memasuki periode H-7 Idulfitri.

“Kenaikan harga minyak goreng curah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika harga CPO dunia yang dipengaruhi konflik Iran–AS/Israel. Pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara pemenuhan permintaan ekspor dan ketersediaan stok untuk konsumsi masyarakat Sumut yang sedang meningkat,” ucap Gunawan.

Dengan situasi yang masih sangat dinamis, pengawasan terhadap rantai distribusi di wilayah seperti Medan dan Sibolga menjadi krusial agar kenaikan harga tidak melampaui batas kewajaran yang dapat memicu kepanikan konsumen. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *