SIANTAR NEWS JAM 15.30 WIB
Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak diseluruh Indonesia yakni Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) digelar, Rabu(17/04/19), sudah semakin dekat.
Informasi dihimpun kru koran ini dari beberap warga, sampai saat ini baik Pilpres dan Caleg masih berdiam diri mempromosikan diri dan programnya di masyarakat.
Billy Napitupulu, warga Kelurahan Aek Nauli, Kecamatan Siantar Selatan, Selasa (26/3) sekira jam 15.30 wib mengatakan, untuk Pilpres suasananya masih terbilang kondusif, dan itu menurutnya merupakan hal yang baik untuk Kota Siantar yang penduduknya majemuk.
Menurutnya, siapapun yang menang untuk Pilpres, kita semua tetap satu jiwa dan tidak usah ada pertikaian meskipun calon yang kita pilih ini kalah.
“Kalau untuk Caleg yang datang mempromosikan diri ke tempat kita, masih 1-2 orang saja, itupun warga di sana. Tetapi yang lainnya belum ada. Jadi kita ini masih minim informasi, siapa yang harus dipilih melalui program unggulannya,” tuturnya.
“Sampai saat ini masih itu aja yang datang untuk mempromosikan program mereka,” sambung Billy Napitupulu yang mengaku bingung karena hanya 1-2 Caleg aja yang datang ke tempat mereka untuk mempromosikan programnya.
“Apakah Caleg di daerah ini hanya 1-2 saja atau lebih?” ujarnya sembari mengaku bahwa tidak ada Caleg yang datang selain yang ada di tempatnya.
Diakuinya, sampai saat ini belum tahu warna apa surat suara Calon Presiden, Caleg DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kota/Kabupaten. Karena menurutnya selama ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun para Caleg belum melakukan sosialisasi terkait ini.
Dimintai tanggapan terkait akan adanya serangan fajar, dia berpesan agar masyarakat jangan mau suaranya dibeli.
“Pilihlah calon yang cocok dengan hati masing-masing,” pesan Billy Napitupulu.
Ketua DPD LSM Pijar, Edward Sibarani, yang dihubungi melalui seluler mengaku sampai saat ini belum ada Caleg di daerahnya yang mempromosikan diri, dan hanya memasang gambar bahwa dia seorang Caleg, tanpa memperkenalkan program.
“Iya, sampai saat ini belum ada Caleg di daerah kami yang datang untuk promosikan diri. Kayaknya sampai saat ini masih senyap-senyap saja kulihat para Caleg ini, padahal sekarang ini masa kampanye,” ungkapnya.
Dia mengaku tidak tau apa sebenarnya yang terjadi, kenapa sampai senyap-senyap saja. Dia juga mengakui bahwa sampai saat ini belum ada sosialisasi KPU soal 5 surat suara.
“Warna surat suara untuk Pileg, Pilpres, gak tau aku dek. Gak ada sosialisasi. Kemarin udah kuhubungi ketua KPU terkait ini, tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan,” jelasnya.
Sedangkan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Siantar, Alboin Samosir, mengatakan minimnya para Caleg untuk menggaungkan programnya, karena dipengaruhi oleh popularitas dari Pemilihan Presiden, yang mana masyarakat lebih fokus ke Pilpres daripada Pileg itu sendiri.
“Mengenai Caleg, apakah mereka minim program, kita kurang tahu. Tetapi selaku mereka yang sudah menerjunkan diri sebagai Calon Legislatif, seharusnya mereka bergerilya menjual ide dan mempromosikan diri mereka untuk memberikan perubahan di Kota Siantar maupun Simalungun,” ucap Alboin Samosir.
Dilanjutkannya, seharusnya mereka Caleg ini bisa memberikan gambaran apa saja program mereka dalam waktu singkat maupun program jangka panjang.
Sedangkan untuk surat-suara sendiri, diakuinya bahwa dia sudah tahu karena dari organisasi mereka ada yang jadi relawan KPU.
“Sudah tau bang, ada anggota kita yang jadi relawan KPU, yang memperkenalkan warna surat suara,” ungkapnya.
Fajar pratama selaku mahasiswa USI Fakultas Hukum mengatakan, pelaksanaan Pemilu secara serentak sangat efisien (hemat) terhadap anggaran, seperti biaya politik, biaya kampanye.
Menurutnya, yang menjadi problem di tengah-tengah masyarakat yakni masih rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap Pemilu Serentak ini.
“Harus ada sosialisasi dan konsolidasi yang penuh, agar pada saat Pemilu Serentak masyarkat tidak gamang. Karena terlalu banyak yang harus dipilih pada Pemilu Serentak, baik Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota,” tuturnya.
Dia menambahkan, mungkin hal yang paling fatal harus diketahui seluruh masyarakat adalah warna surat suara.
“Mungkin sampai detik ini banyak masyarakat yang tidak mengetahui warna surat suara untuk Pemilu Serentak ini?” ujarnya.
Dia menambahkan, pada gelaran pesta demokrasi ini, peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam hal sosialisasi dan pendidikan politik, tegas dinyatakan dalam UU no.7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum Pasal 434. Dimana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sifatnya wajib memberikan bantuan dan fasilitasi untuk kelancaran pelaksanaan tugas, wewenang, dan kewajiban Penyelenggara Pemilu. Dengan harapan masyarakat memahami perihal Pemilu Serentak, serta dampaknya adalah suksesi demokrasi di negara ini.
Sedangkan koordinator Kita Serupa, Mei Pasaribu, juga mengatakan bahwa para Caleg belum ada yang datang ke tempat mereka untuk melakukan sosialisasi.
“Seharusnya mereka sudah memamerkan program, kalau mereka punya program. Mereka yang tidak mau memamerkan program mereka, karena mereka tidak punya program? Artinya sekarang ini sudah masa kampanye terbuka, bisa mempromosikan diri mereka melalui apa saja. Tetapi bila mereka sampai saat ini tidak memamerkan program, berarti mereka memang tidak punya program,” tegasnya.
“Ini adalah momen mereka melakukan kampanye, momen memperkenalkan diri kepada masyarakat. Kalau mereka tidak melakukannya, jadi mereka ini mau melakukan apa?” sambung Mei Pasaribu sembari menambahkan hingga saat ini belum ada caleg yang datang ke tempat mereka untuk memperjuangkan nasib para anak berkebutuhan khusus (ABK).
“Apabila ada yang konsen kepada anak berkebutuhan khusus, pasti dari komintas Kita Serupa akan memberikan respon positif,” tutupnya. (bing)






