TAPTENG NEWS – JAM 10.30 WIB
Maslan Malau (58) ayah almarumah Santi Devi Malau, karyawati Bank Syariah Mandiri di Tapanuli Tengah, yang dibunuh Pasutri DP (20) dan NN (18) mengaku sangat kehilangan putri ke-empatnya itu.
Ditemui di kediamannya di lingkungan II, Kelurahan Sibabangun, Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah, Rabu (19/6) Maslan terlihat terduduk lemah di lantai rumahnya. Sesekali dia memandang dengan tatapan kosong.
Dia berusaha menahan tangis dengan mata berkaca – kaca. Maslan menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan. Nada suaranya tertahan. “Entahlah, Santi anak baik,” ucapnya perlahan.
Sementara, Ibunda Santi duduk tak jauh dari Maslan dan terus terisak. Matanya pun masih terlihat sembab. Di dinding rumah, ia bersandar sembari melihat dan memeluk foto almarhumah. Sesekali Maslan melirik istrinya itu dengan haru. “Tapi kami tetap ikhlas, Allah sayang sama Santi dan menjemputnya cepat,” katanya.
Walau Maslan menyebut masih memendam pertanyaan besar soal alasan yang begitu kuat mendorong para pelaku merenggut nyawa putrinya. Di kamar 03, Santi tewas ditangan pelaku biadab tersebut.
“Benar – benar kami tak habis fikir, mengapa mereka harus membunuh Santi? Hanya karena uang? Itu sangat keji, bukan perilaku manusia,” ungkap Maslan.
Kendati Maslan mengaku berterimakasih dengan kerja keras kepolisian mengungkap siapa para pelaku pembunuhan. Polisi menurutnya telah bekerja dengan baik.
“Kami sangat mengapresiasi kinerja polisi. Semoga cepat terungkap motif yang sebenarnya,” ucapnya.
Dia juga menyebut, menyerahkan sepenuhnya penanganan hukum terhadap para pelaku kepada pihak kepolisian. “Kita serahkan sepenuhnya kepada kepolisian,” imbuh Maslan
Pembunuhan Santi Devi Malau membuat geger, Jumat (14/6) pekan lalu. Korban yang bekerja sebagai customer service Bank Syariah Mandiri ini ditemukan telah meregang nyawa di kamar mandi kontrakannya di depan persimpangan Aek Tolang, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah.
Sekitar 5 jam Santi diperkirakan tergeletak usai tewas dibunuh para tersangka. Rekannya dan warga mendobrak paksa dan menemukannya lalu mengevakuasinya ke rumah sakit setempat.
Dugaan pembunuhan menguat usai ia ditemukan. Beberapa dugaan muncul disebabkan luka cakar di wajah dan tangan serta hilangnya telepon genggam korban.
Pihak kepolisian akhirnya memburu para pelaku. Pasangan suami istri DP dan NN akhirnya berhasil diungkap sebagai pelaku. Keduanya ditangkap di kota Medan Selasa (18/6)) malam. Mereka akhirnya mengakui perbuatan keji itu. Motif ekonomi disebut sebagai pemicu aksi pembunuhan.
“Otak pelaku yakni DP (20) dijerat pasal 365 ayat 4 dengan ancaman seumur hidup, sementara untuk istrinya NN (18), kita masih melakukan pengembangan apakah terlibat atau tidak,” kata Sukamat. (ben)






