SIBOLGA NEWS – JAM 19.00 WIB
Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga (STPS) melakukan penilitian penggunaan indigofera pembuatan pellet ikan mas. Dalam hal tersebut, Ketua Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga Dr. Lucien Pahala Sitanggang, S.Pi., M.Si saat dikonfirmasi melalui via selulernya menyampaikan pengembangan riset terapan budidaya merupakan salah satu tujuan Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pembudidaya ikan.
Ia menjelaskan, salah satu kegiatan riset dalam 6 bulan terakhir dilaksanakan oleh Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga adalah penelitian dibidang nutrisi yang terkait dengan penggunaan bahan baku alternatif selain tepung ikan untuk pembuatan pellet.
“Penelitian pendahuluan yang dilakukan Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga yakni tepung tanaman indigofera dapat dijadikan sebagai bahan baku pengganti tepung ikan untuk menyuplai kandungan protein dalam komposisi pakan ikan, karena dengan menggunakan formulasi pembuatan pellet ikan, Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga melakukan penelitian dengan perbandingan penggunaan tepung indigofera sebagai bahan baku utama pellet ikan mas,” ujarnya.
Lanjutnya, metode yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah metode bujur sangkar (person square) dimana formulasi pakan ditentukan dengan perbandingan tiap-tiap bahan baku yang dicampur dalam pembuatan pellet. Adapun prosedur pembuatan pellet dalam penelitian ini dimulai dengan penepungan bahan baku, dimana indigofera terlebih dahulu dijemur kurang lebih selama 3 hari kemudian digiling dengan mesin penepung.
“Peneliti melakukan tahapan penepungan sebanyak 3 kali secara berulang untuk mendapatkan hasil yang sempurna sehingga tidak membutuhkan proses pengayakan. Tahapan selanjutnya, peneliti melakukan proses pencampuran (mixing) untuk bahan baku yang sudah diformulasi diantaranya tepung indigofera, tepung dedak, tepung jagung, tapung tapioca, dan viterna,” ucapnya.
Dirinya uga menyebut, dalam tahapan ketiga adalah proses pencetakkan (pelleting) dengan menggunakan mesin yang sudah dimodifikasi oleh peneliti menggunakan ukuran pellet 1 mm. Kemudian tahapan keempat, peneliti melakukan pengeringan dengan menjemur pellet di udara terbuka atau memasukkan pada mesin oven dengan suhu 30-400C selama 6 jam. Dan tahapan berikutnya adalah tahapan uji coba pada 100 sampel ikan mas pada tiap-tiap perlakukan, serta tahapan terakhir dari penelitian ini adalah uji proksimat untuk menentukan kadar protein, lemak, mineral, dan air di laboratorium kimia Universitas Sumatera Utara.
“Dalam analisa proksimat adalah suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan zat makanan dari suatu bahan, karena tujuan analisis adalah untuk mengetahui secara kuantitatif komponen utama suatu bahan makanan. Hasil analisa proksimat dari pakan pada penelitian ini adalah kadar protein Perlakuan I rata-rata yaitu 33,22%, rata-rata kadar protein pada Perlakuan 2 yaitu 34,82%, dan rata-rata kadar protein pada Perlakuan 3 yaitu 37,21%. Hasil proksimat yang terbaik dari penelitian ini terdapat pada perlakuan 3 yaitu sebesar 37,21%,” katanya.
Sambungnya, dari hasil analisa proksimat tersebut, dapat dinyatakan bahwa tepung indigofera dapat dijadikan bahan pengganti dari penggunaan tepung ikan, hal ini dikarenakan dengan penggunaan bahan indigofera, analisa proksimat pada masing-masing perlakuan diperoleh hasil di atas 30%, sehingga layak untuk dijadikan pakan ikan pada tahap pembesaran. Kebutuhan protein untuk pertumbuhan ikan mas yaitu sekitar 30% (Putranti dkk, 2015).
Konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah bobot ikan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Feed Convertion Ratio (FCR) atau efisiensi penggunaan pakan ikan uji untuk Perlakuan I sebesar 1,45, Perlakuan 2 sebesar 1,38, dan Perlakuan 3 sebesar 1,32. Dari ketiga hasil tersebut, didapat nilai FCR yang terbaik yaitu pada perlakuan 3 sebesar 1,32.
“Dalam budidaya, semakin rendah nilai rasio efesiensi pakan, maka semakin baik budidaya tersebut. Namun sebaliknya, semakin tinggi nilai rasio efisiensi pakan, menunjukkan bahwa pakan yang dikonsumsi ikan memiliki kualitas yang buruk. Mengutip dari literatur, pendapat tersebut sesuai dengan pendapat Iskandar R dan Elrifadah (2015) yang menyatakan semakin kecil nilai konversi pakan berarti tingkat efisiensi pemanfaatan pakan lebih baik, sebaliknya apabila konversi pakan besar, maka tingkat efisiensi pemanfaatan pakan kurang baik,” terangnya.
Tambahnya, dengan demikian konversi pakan menggambarkan tingkat efisiensi pemanfaatan pakan yang dicapai. Secara statistika pengujian F terhadap nilai FCR dan kandungan protein ada pellet yang diteliti tidak memberikan nilai yang signifikan, yang berarti bahwa tepung indigofera dengan komposisi pembuatan pellet yang dilakukan memberikan hasil yang relative sama.
“Pemberian pellet dengan tambahan tepung indigofera menambah biomassa ikan mas. Pada perlakuan Idiperoleh hasil 340, pada perlakuan 2 diperoleh hasil 354, dari perlakuan 3 diperoleh hasil 380. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa nilai biomassa paling tinggi ialah pada perlakuan tiga dengan bobot rata-rata ikan mas yaitu 380 gram,” ungkapnya.
Dirinya juga memaparkan, bahwa kandungan indigofera memberikan konstribusi yang besar terhadap selisih bobot mutlak ikan uji. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan A dan Ginting S.P. (2011), yang menyatakan bahwa penggunaan indigofera dalam ransum dapat meningkatkan konsumsi dan kecernaan serta efisiensi pakan yang selanjutnya meningkatkan pertambahan bobot harian.
“Sebaran data pengukuran tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) ikan mas, menunjukkan pakan ikan yang terbuat dari bahan indigofera ternyata tidak memberikan dampak negative terhadap komoditas ikan mas itu sendiri. Hal ini disebabkan karena kemampuan ikan mas yang mampu beradaptasi dengan pakan yang terbuat dari bahan indigofera. Disisi lain, pemberian pakan yang berasal dari indigofera tidak memberikan dampak negative pada lingkungan/ kualitas air pada media ikan uji,” jelasnya.
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan langsung oleh Ketua Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga Bapak Dr. Lucien Pahala Sitanggang, S.Pi., M.Si sebagai penanggungjawab (Ketua), dan Ibu Juni Susanti Banurea, M.Pd sebagai Anggota. Penelitian ini menggunakan dana dari Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi tahun anggaran 2019 dengan nomor kontrak T/37/LI.3.1/PT.01.03/2019. (riz)






