SIBOLGA NEWS – JAM 17.30 WIB
Sejumlah orang tua yang memiliki anak sekolah mengeluhkan proses pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) yang diterapkan oleh Pemerintah.
Mereka mengaku merasa sangat terbebani dengan hal itu.
Seperti yang disampaikan Salmaida, warga Rusunawa Sibolga, yang memiliki 2 anak yang masih bersekolah.
Dia mengaku, penambahan biaya sekolah itu ia rasa tidak sesuai, mengingat anak-anaknya tidak masuk sekolah.
“Ya suntuk juga lah kalau anak kita gak juga masuk sekolah. Soalnya, kalau anak gak masuk sekolah jadi asik bermain ajalah,” keluhnya, Senin (03/8)
Selain itu, mengenai sistem pembelajaran lewat WhatsApp (WA), Salmaida harus membeli HP untuk anaknya ditambah dengan beli paket.
Sehingga, kata Salmaida, sistem pembelajaran yang seperti ini jadi membuat dirinya tambah pusing.
“Tambah banyak biaya, seminggu sekali mau lah harus sepaket anak-anak saya.
Kalau paket yang dipakai anak saya itu, paket yang perbulan, ada yang 80 ribu, ada yang 85 ribu,” ungkapnya.
Dikatakan Salmaida, ia hanya mampu membeli 1 Hp saja untuk kedua anaknya dan itulah yang dipakai secara bergantian. Karena suaminya hanya seorang nelayan dan ia cuma berjualan.
“Hasil dari jualan saya pun kurang laku, apalagi selama masa Covid-19 ini. Kelaut begitu juga, apalagi kalau sudah cuaca buruk (Badai), macam mana mau melaut ? Sehingga biaya sehari-hari saja pun kurang,” ucapnya sedih.
“Harapan saya kepada pemerintah, kalau bisa anak-anak masuk dan belajar di sekolah saja,” pintanya.
Diakuinya, terkadang kedua anaknya juga ribut gara-gara Hp tersebut.
“Makanya kami orang tua ini tambah suntuk, mendingan lagi anak-anak kami masuk dan belajar di sekolah, daripada harus belajar pake WA begini,” kesalnya.
Tak hanya itu, menurut Salmaida, misalnya jika anak-anak belajar di sekolah dapat dipantau oleh guru juga.
“Kalau di rumah ya gimana lah, malam nanti, bermain, habis itu nanti, baru pelajaran di buka mereka,” imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan pasangan Suami-istri, Samsul dan Hera, warga Rusunawa Sibolga.
Di proses pembelajaran Daring ini, mereka cuma mampu membeli 2 unit Hp, sementara mereka memiliki 3 orang anak yang masih bersekolah.
“Adapun Hp yang lama itu sudah tidak bisa dipakai lagi (Rusak). Jadi yang 2 Hp itulah ganti-gantian,” katanya.
Istinya menambahkan, bahwa mereka juga merasa sangat terbebani dengan proses pembelajaran Daring tersebut.
Pasalnya, uang sekolah tetap harus dibayar juga tiap bulannya.
“Kalau bisa pembelajaran kembali seperti biasa (Normal), karena terkadang melalui WA ini, anak saya tidak mengerti tentang materi pembelajaran yang diberikan oleh Guru. Begitu juga dengan kami orang tua,” harapnya.
“Tapi kalau bisa pemerintah maunya mengeluarkan biaya paket untuk anak sekolah tiap bulannya, karena anak saya kan bersekolah di Swasta, tiap bulan berbayar juga,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai terjangkit nya Covid-19 nanti ke anak apabila proses belajar mengajar kembali diaktifkan di sekolah, menurutnya para siswa tidak akan kena virus Corona jika orang lain dari luar tidak masuk ke sekolah tersebut.
“Kalau masih di lokasi sekolah itu saja tanpa adanya masuk orang lain dari luar, mana mungkin kena Corona ya kan,” cetusnya. (ful)












