Pasien melahirkan saat hendak pulang SIBOLGA NEWS – JAM 00.10 WIB
Terkait viralnya seorang pasien yang hendak melahirkan namun dianggap ditelantarkan oleh pihak RSUD FL Tobing Sibolga, pada Rabu (11/11), telah menuai kritikan pedas dari sejumlah netizen.
Melihat hal itu, news24jam.com pun mengkonfirmasi pihak keluarga pasien, pada Rabu (11/11) malam.
Erna Wati yang merupakan pihak keluarga, saat dikonfirmasi menceritakan kronologis kejadian itu.
Disebutkan bahwa pasien bernama Dian Nurliani (22), warga Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga, Sumatera Utara (Sumut).
Erna menceritakan, bahwa semula pada jam 9 pagi DN sudah keluar air ketuban. Usai itu, kata Erna, DN dibawa ke salah seorang bidan (W). Kemudian bidan tersebut meminta DN untuk di Swab Test.
“Karena 4 hari yang lewat, dia (DN) ini sudah pergi test, namun belum keluar hasilnya. Jadi, jam 10 paginya kami pergilah menjemputnya ke sana. Sampai di sana, dia sama mertua nya pergi ke sana menjemput, saya masih di rumah bidan (W) menunggu,” ungkapnya.
“Saya gak sabar, saya telpon anak saya, saya tanya, dimana kalian, di Puskesmas kata anak saya, terus saya pigi ke sana, sampai di sana saya tanya, mengapa belum juga dapat suratnya, belum lagi mak, tanya lah bidan itu. Terus saya tanya lagi Bidan yang ada di Puskesmas, buk ada apa anak saya gak bisa dibawa, mereka bilang, positif. Positif apa saya gak tau pertama, habis itu datang lah adeknya yang bernama Putri Shalu Amelia menanyakan lagi, sekarang buk saya mau lihat hasil tesnya, betul apa tidak positif nya, pigilah kami menengok, di bilangkan nya positif tertulis, ditunjukkannya lah surat hasil Swab Test yang mengatakan positif,” sambungnya.
Kemudian, Erna menanyakan bagaimana solusi yang terbaik untuk anaknya, namun pihak Puskesmas menjawab harus dibawa ke rumah sakit.
“Dibawalah anak saya ke rumah sakit sekira jam 12.30 WIB atau habis sholat zhuhur, sampai di rumah sakit umum, masuk ke ruangan, ada spesial ruang isolasi nya, dibawa ke situ, sampai di ruang IGD, ada ruang spesial nya, sampai di sana kami pun diminta sampai dia di sana, kamipun sampai lah,” terangnya.
Tak berapa lama, kata Erna, datang seorang ibu atau oknum perawat di IGD itu untuk meminta KTP dirinya, KTP pasien, dan KTP anaknya yang bernama Yuliani, serta BPJS.
“Saya kasih, setelah di kasih, saya di suruh duduk keluar lagi ke ruang tunggu, saya tunggu di situ ada 1 jam, habis itu saya masuk, tapi saya di usir keluar, saya gak terima, masuk lagi saya, sampai marah saya. Habis saya marah, saya tanya, kek mana buk saya nanti jawaban hasil Test anak saya dari siapa, nanti buk, dokter mengasih tau, duduk lah ibu dulu di ruang tunggu. Saya tunggu sampai jam setengah 5 sore, apapun cerita tidak ada, satupun keterangan tidak ada kami dapat, A ataupun B,” bebernya.
“Gak berapa lama anak saya pun didorong lah pake tandu-tandu, tabung-tabung Corona itulah dari IGD, dipindahkan ke ruangan isolasi katanya,” lanjutnya.
Karena merasa hatinya tidak senang, Erna pun pergi ke ruangan isolasi dan menanyakan anaknya mau diapakan.
“Saya kemudian pergi ke ruangan isolasi itu, buk teringat nya anak saya ini kek mana, mau di apakan, saya bilang. Terus dijawab, loh, buk, gak ada rupanya cerita dari dokter, terus saya jawab tidak ada apa-apa buk. Habis itu saya tanyain juga lagi, buk anak saya kek mana, terus dijawab, ibu jangan komplain di sini, kami tidak tau, pasien dibawa ke sini, kami terima, sekarang ibu komplain ke IGD, saya langsung ke IGD, sampai di IGD saya tanya, buk kek mana nya solusinya, apanya penyakit anak saya kok bisa dioperasi, operasi apa, saya bilang. Buk dia mau melahirkan, harus di operasi, saya tanya apa gak bisa normal, terus dijawab, tidak bisa buk, apa penyebabnya dan apa sakit anak saya, terus pihak IGD menjawab, o tunggulah ya buk, saya tanya dulu dokter yang jaga tadi pagi, ini sudah sore, saya tanya dulu karena saya baru masuk,” jelasnya.
Selanjutnya, Erna menunggu lagi di luar, setelah kurang lebih 1 jam ia menunggu, dokter tersebut kemudian mengatakan bahwa anaknya (Pasien) harus di operasi. Alasannya, karena jantung bayi yang mencapai 170.
“Terus anak saya itu kek mana, hasil Test nya kek mana buk, kok gak ada di kasih tau sama kami, itulah pokoknya biar tau orang ibu, ini masalah anaknya, mamanya gak ada bermasalah, jam 5 sore mau di operasi,” katanya.
“Sementara, kami di ruang isolasi sudah jam 5. Gak berapa lama, disuruh mertua nya masuk ke dalam ruangan menungguinya di situ. Dan Gak berapa lama, mertuanya keluar dan memanggil saya, tolong dulu masuk ibu dibilang kan pasien,” imbuhnya.
Ironisnya, saat Erna masuk ke ruangan isolasi tersebut, dia melihat anaknya sudah dalam keadaan mengedan bayinya mau keluar.
“Saya yang menerima bayinya yang mau keluar, saya bilang, terus nak, terus nak, pelan ya nak, terus pelan-pelan nak, sampai anak saya meminta tolong, maaakkkk, tolong saya mak, jangan tinggalkan aku, dibilang anak saya gitu, gak berapa lama keluar lah kepala bayinya, saya kurang pandai pak, saya pegang kepalanya itu, bidan, dokter tolong anak saya dulu, ini udah keluar kepala bayinya saya bilang, saya tinggal anak saya, lari saya lagi keluar membilang, kemudian saya masuk lagi, saya terima cucu saya itu sampai keluar. Kemudian saya taruh di atas tempat tidur, saya panggil lah kakak-kakaknya, saya tinggalkan anak saya, berdatangan lah kakak-kakaknya, habis itu, saya ambil lah rambut kakaknya, saya masukkan ke mulutnya untuk mengeluarkan ari-ari nya, anak saya pun mual dan keluarlah ari-arinya,” kisahnya.
“Saya lah yang jadi bidan persalinan anak saya, udah siap itu, bayi saya taruh tidak ada dalam keadaan sesuatu alas pun atau kain,” tambahnya.
Erna kemudian memanggil pihak rumah sakit, dan perawat yang berjaga saat itu datang lalu lari-lari mencari bidan.
“Namun, tidak ada yang mau, tidak ada yang datang, tidak ada yang merespon, tidak ada satupun, dokter pun tidak ada, tunggu lah datang dokter buk, sedang di jalan, gitu lah mereka ngomong,” sesalnya.
Erna pun berusaha untuk membungkus (Bedong) bayi yang juga cucu nya tersebut pertama kali dengan menggunakan kain sarung.
“Jadi gak senang hati saya pak, saya ambil kain sarung yang hitam pertama, saya bungkus (Bedong) cucu saya itu. Habis itu pak, saya ambil lagi popoknya, saya bungkus lagi, namun dia (cucu) saya tetap mendingin, sudah ada lebih setengah jam bayi mendingin terus menggigil-menggigil,” ucapnya sedih.
Kemudian lanjut Erna, dirinya minta tolong sama seorang petugas yang ada di rumah sakit.
“Dia lah yang tadi bersikeras untuk menjemput dokter, keluar lah seorang dokter dari ruang operasi, dia lah di panggil datang, datang dia sambil marah-marah sama perawat-perawat yang di sana. Masa kalian kayak gini, gak kalian acuhkan pasien kayak gitu, inikan kewajiban kalian, marah-marah lah dokter tadi sambil motong pusat bayi atau cucu saya itu,” ungkapnya.
Bahkan usai itu, mereka cuma bertiga yang menjahit dan membersihkan pasien, termasuk dirinya, dokter dan seorang petugas laki-laki di rumah sakit tersebut.
Selesai dijahit dan di bersihkan, dokter pun keluar dan mengatakan, bahwa bayi tersebut harus di kasih sama dokter spesialis anak.
“Habis itu dia pergi, memang pada saat itu mungkin bukan dia yang bertugas,” ujarnya.
Erna begitu mengaku bahwa anaknya telah ditelantarkan oleh pihak RSUD Sibolga. Sehingga menurutnya, anak serta bayi tersebut lebih baik di bawa pulang daripada terlantar di rumah sakit.
“Pokok nya kami di situ ditelantarkan, tidak ada di respon, tidak ada satupun dokter, bidan yang datang melihat anak saya,” ketusnya. (ful)
Tidak ada komentar