TAPTENG NEWS – JAM 12.00 WIB
Siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah diduga dicabuli gurunya
Kasus ini sudah dilaporkan, Sabtu (28/9) lalu oleh sejumlah orangtua para murid ke Mapolres setempat. Sebanyak 10 siswi didampingi orangtuanya menjadi pelapor dalam kasus ini.
Sementara DPRD Tapanuli Tengah menggelar pertemuan terkait kasus tersebut, Senin (30/9) siang di ruang ketua DPRD. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Amrul, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Anak Tioprida Sitompul turut dihadirkan.
Kepala Sekolah Dasar, Rimma Pasaribu juga dihadirkan. Sementara Ketua DPRD Antonius Hutabarat dan sejumlah anggota dewan lainnya juga hadir.
“Jika terbukti melakukan pelecehan, kami akan merekomendasikan pemecatan ke Dinas Pendidikan. Kami juga percaya dengan kepolisian profesional dengan persoalan ini,” kata Antonius.
Selain itu, Dinas PPA diminta turun ke lapangan mendampingi korban, Politisi Hanura ini mengatakan, dalam pertemuan itu pihaknya meminta agar dinas terkait juga turun ke lapangan dan melakukan pendampingan kepada para siswa yang mengaku korban.
“Kita minta juga agar Disdik (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas PPA (Pemberdayaan Perempuan dan Anak) untuk turun ke lapangan. Mendampingi anak – anak agar semangat kembali belajar dan agar proses belajar mengajar tetap berjalan,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tapteng Samrul Bahri menuturkan, informasi kasus tersebut dia dapatkan dari pesan whatsapp setelah dilaporkan ke pihak kepolisian. Dia mengaku sudah mencari informasi lebih jauh soal kasus tersebut.
“Bapak ini (tersangka-red) biasa didekatinya satu demi satu murid ini, dipeganglah tangannya. Setelah selesai diajari satu persatu, belajarlah yang baik, sambil memukul pundak. Begitu juga keterangan dari kepala sekolah,” kata Samrul.
Kadis PPA Tapteng Tioprida Sitompul mengungkap pihaknya sudah membentuk tim gabungan dari beberapa instansi, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Sosial. Hari ini tim tersebut sudah ke sekolah dan Desa tersebut.
“Di UU PA (Perlindungan Anak), pelecehan minimal 5 tahun, dan tugas kami pendampingan terhadap anak – anak bagaimana biar mentalnya bisa kembali. Kami juga kordinasi dengan Disdik, kami siap, tim sudah ke lapangan, tapi ini kan belum pulang dari Desa itu,” katanya.
Senada, Kepala Sekolah Rimma Pasaribu mengatakan, sebelum kasus itu dibawa ke Polisi, sempat diadakan pertemuan antara pihak sekolah, guru yang dituduh dan orangtua korban. Dalam pertemuan itu, pihaknya mengusulkan agar perdamaian dilakukan antara tersangka dan orangtua korban.
“Mereka nggak mau berdamai, mereka tetap bertahan. Mungkin pengaruh yang lain, saya sudah minta agar berdamai, komite juga,” kata Rimma.
Dalam pertemuan itu juga dihadirkan para siswa yang mengaku sebagai korban, dan mempraktikkan dugaan pelecehan yang dialami.
“Dipanggil siswa, dipraktekkan, tapi saat itu dibantah oleh guru itu. Jadi nggak tahu kemana mereka (orangtua korban-red) mengadu,” kata Rimma.
Wakil Ketua DPRD Tapteng, Darma Bhakti Marbun mengaku heran atas munculnya upaya perdamaian yang ditawarkan pihak sekolah. Menurut dia, usul perdamaian sebaliknya memunculkan kecurigaan, pelecehan seksual itu memang terjadi.
Bhakti kemudian menekankan pihak sekolah harusnya objektif dan melakukan pengumpulan informasi sebanyak – banyaknya.
“Seharusnya kepala sekolah menyelidiki lebih jauh, kan ada teman – temannya. Tadi ibu bilang sesekali melihat dan biasa saja,” katanya.
Bhakti meminta agar kasus ini diungkap sejelas – jelasnya. Jika terbukti, ia meminta pelaku dihukum berat.
“Kalau dia betul, kita minta tindakan keras kepada yang diduga ini,” tukas politisi Golkar tersebut.
Tersangka dituduh melalukan pelecehan karena memegang tangan dan duduk dekat ke para korban. Kasus ini terungkap Sabtu (28/9) akhir pekan lalu saat korban dibawa orangtuanya melapor ke Mapolres Tapteng. Anggota DPRD Sibolga Jamil Zeb Tumori terlihat mendampingi.
Usai menerima laporan ini Sabtu lalu, Polres Tapteng menahan JH dan menetapkannya sebagai tersangka. Menurut Kasatreskrim Polres Tapteng AKP Dodi, pelapor bukan hanya 15 korban. Namun, masih ada 5 korban lagi yang hendak melapor.
“Kemarin hari Sabtu itu mereka mau melapor semua, tapi karena malam, masih 10 yang melapor dan masih ada 5 lagi mau melapor,: ungkap Dodi. (ben)






