Misnur Hutagalung, warga Poriaha Desa Tapian Nauli III Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menyampaikan keluhannya di sela-sela penyaluran bantuan sembako dan Masker Dari LKBH Sumatera TAPTENG NEWS – JAM 14.00 WIB
Meski pemerintah telah berulang kali mengeluarkan bantuan bagi keluarga yang tidak mampu (miskin), namun masih saja ada diantaranya yang tidak tersentuh bantuan tersebut.
Salah satunya, Misnur Hutagalung yang merupakan warga Poriaha Desa Tapian Nauli III Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Sedih rasanya ketika Tapanuli News 24 Jam mendengar keluhan yang disampaikan oleh Misnur Hutagalung.
Pasalnya, semenjak bergantinya Kepala Desa (Kades) di tempat itu, Misnur sama sekali tidak pernah lagi mendapatkan bantuan jenis apapun dari pemerintah.
“Semenjak berganti Kades, saya tidak pernah mendapat bantuan pak. Baik itu PKH, Bantuan Langsung Sementara (Balsem) maupun bantuan-bantuan lain dari pemerintah. Persyaratan mengurus BPJS pun diminta Kades itunya, tapi satupun tidak ada yang pernah saya terima,” keluhnya di sela-sela menunggu penyaluran bantuan dari LKBH Sumatera, Sabtu (18/4).
Padahal kata Misnur, ia masih sering mendapat bantuan seperti beras dari Kepala Desa sebelumnya.
“Sedih sekali rasanya pak. Saya bahkan menangis melihat Kades itu bagi-bagi beras, telor, tahun baru (2020) yang lalu,” ucapnya seolah terisak.
Yang lebih mengherankan, setiap Misnur menanyakan soal bantuan, Kades tersebut selalu menjawab namanya tidak keluar dari Jakarta (Pusat).
Tak hanya itu, Misnur mengungkapkan, ia hanya tinggal di rumah kontrakan yang berada di belakang rumah Kades.
“Apapun tidak ada yang saya miliki pak. Tapi gak pernah saya dapat bantuan. Seperti saya lah, tidak mungkin dia (Kades) tidak mengetahui isi dapur saya. Maaf cakapnya, olahan air getahnya ke halaman rumah saya itunya,” ungkapnya.
Misnur mengaku mempunyai 3 orang anak dan satu diantaranya masih berstatus pelajar. Dan untuk membiayai sekolah anaknya, ia harus mengutang ke tetangga agar anaknya tetap bersekolah.
Sementara, pekerjaannya hanya berjualan kue keliling yang memperoleh untung sebesar Rp 20 ribu hingga 30 ribu per hari.
“Itu pun saya harus ngutang dulu ke warung beli minyak untuk menggoreng kue pak,” terangnya.
Menurutnya, bukan hanya dia saja yang merasakan hal itu. Akan tetapi rata-rata yang lemah seperti mereka (orang tua tunggal) tidak mendapatkan bantuan tersebut. Itulah yang membuat mereka merasa sangat sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa.
“Tapi kalau famili atau keluarga dari Kades itu selalu mendapat bantuan pak. Ada lagi yang rumahnya besar dan punya mobil, malah mendapat,” imbuhnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Tapian Nauli III, Romatua Tamba melalui telepon seluler, Minggu (19/4) menjelaskan, meski pihaknya telah menerima persyaratan dari warga, namun yang mengeluarkan layak atau tidaknya warga penerima bantuan merupakan keputusan dari pusat.
“Data-datanya itu kita kirim ke Dinas Sosial Tapteng, jadi itu bukan keputusan saya sendiri,” bebernya.
Selain itu, Romatua juga membantah pernyataan warga yang mengatakan penerima bantuan di desa tersebut merupakan kalangan keluarga mampu yang memiliki mobil dan berumah besar.
“Itu tidak benar. Kalau boleh tau, siapa yang menyampaikan seperti itu? Bisa di tunjukkan dulu orangnya sama saya. Dimana rumah penerima bantuan yang kategori begitu,” kilahnya. (ful)
Tidak ada komentar