Sejarah Barus Di Tapteng, Titik Awal Masuknya Islam ke Indonesia

TAPTENG NEWS – JAM 14.00 WIB

Penentuan Barus di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sebagai titik awal masuknya Islam ke Indonesia sebenarnya sudah pernah dibahas dalam seminar nasional bertema “Sejarah Masuknya Islam di Indonesia” tahun 1962.

“Dulu, itu zamannya Pak Hamka. Tapi, memang fakta-fakta sejarahnya masih minor, belum bisa dipastikan,” jelas Sejarawan Dr Tiar Anwar Bachtiar, Jumat (5/10).

Tiar mencontohkan seperti penemuan adanya batu nisan di Makam Mahligai Barus. “Ini pun masih debatable (belum pasti. Red). Ada yang menafsirkan ditemukannya tahun 48 Hijriyah. Tapi, setelah dilakukan riset ternyata usianya lebih muda, bukan 48 Hijriyah,” terangnya.

Menurut peneliti INSISTS ini, justru yang sering dipakai sebagai sumber bahwa Islam masuk pertama di Barus adalah catatan pelancong China yang bertemu dengan komunitas Arab di sana.

“Memang Barus ini menjadi tempat persinggahan para pedagang dari Arab, untuk rempah-rempah terutama kamper atau kapur barus,” imbuhnya.

Monumen titik awal masuknya Islam ke Indonesia

Bahkan, Tiar mengatakan, sejak abad pertama, sudah terbangun hubungan antara Timur Tengah dengan kawasan Nusantara di (Barus. Red). “Kalau makam belum bisa dipastikan bahwa berasal dari abad ke-7 Masehi,” kataTiar.

Meskipun ada penafsiran soal usia batu nisan yang terdapat di makam (48 Hijriyah), menurut Tiar, tidak relevan dengan beberapa hasil riset. Misalnya, riset terhadap bebatuan yang ada di makam tersebut, baik dari model atau bentuk dan sebagainya.

“Sehingga hasil riset tersebut tidak mendukung penafsiran usia batu nisan di makam. Bahkan, belakang muncul hasil riset yang menyebutkan kawasan makam itu muncul abad ke-14 atau 15 Masehi. Jadi, makam tersebut sebenarnya masih ‘muda’ usianya. Bukan makam yang berasal dari abad ke-7 Masehi,” paparnya.

Justru fakta sejarah masuknya Islam di Indonesia bukan mengenai makam itu, tapi catatan pelancong China yang menemukan komunitas Arab di Barus. Meski ini juga masih ada perdebatan di kalangan sejarawan, tapi catatan tersebut memang benar adanya.

“Meski demikian, selama ini yang dipercaya dan diyakini masyarakat setempat secara lisan sebagai titik awal masuknya Islam memang makam Mahligai di Barus,” ujarnya.

Jadi, menurut Tiar, tidak relevan jika menyebut pemakaman Mahligai di Barus sebagai titik awal masuknya Islam ke Nusantara. Sebab, usia batu nisan di makam masih ‘muda sekali’.

Tapi, jika mengatakan bahwa kawasan Barus sebagai titik awal masuknya Islam bisa saja benar, sebab ada info yang menyebutnya seperti itu.

“Fakta sejarahnya antara lain berupa catatan pelancong China yang ditemukan oleh beberapa peneliti bahwa ia pernah sampai di kawasan Barus sekitar abad ke-7,” jelasnya.

Menurut Tiar, komunitas Muslim di Barus tidak jelas siapa, dari mana, dan sebagainya. Jadi, informasinya masih samar-samar.

“Namun, itu bisa dijadikan indikasi bahwa memang sejak abad ke-7, Islam sudah datang ke Barus,” tutupnya.

Diketahui, Jumat (24/03/2017) lalu, Presiden RI Joko Widodo telah meresmikan tugu titik nol kilometer masuknya agama Islam ke Nusantara di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dalam sambutannya Presiden Jokowi mengakui, sudah lama mendengar sejarah Kota Barus. Dimana dalam literatur mumi yang ada di Mesir bisa diawetkan karena pakai kapur Barus. Dan juga ratusan tahun yang lalu peradaban nenek moyang Indonesia telah berhubungan erat dengan saudagar dari Timur Tengah dengan penyebaran agama Islam pertama di Nusantara.

“Sejarah tentu meninggalkan bukti atau situs. Dan tadi pagi saya telah mengunjungi Makam Mahligai. Disana terdapat banyak makam pedagang dari Timur Tengah yang kita yakini sebagai aulia membawa masuknya agama Islam melalui Barus,” ujar Presiden dikutip Antarasumut.

Hari itu, tibanya Jokowi dan Ibu Iriana bermalam di Kota Sibolga, Ibu Kota Kabupaten Tapanuli Tengah. pada Jumat (24/3/2017) lalu,  Jokowi kunjungan kerja menuju Kecamatan Barus, untuk meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara dan juga membagikan makanan tambahan (PMT).

Turut menyertai Jokowi dan Ibu Iriana dalam penerbangan dari Batam menuju Tapanuli Tengah adalah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Hendri Susanto Tobing, mengatakan bahwa kedatangan Presiden Jokowi merupakan momentum luar biasa karena dapat memonumentalkan peradaban titik nol agama di Indonesia.

“Doa kami terjawab atas kehadiran Presiden Jokowi ditandai meresmikan titik nol peradaban penyebaran agama di seluruh Indonesia, mulai dari Barus,” kata Hendri

Dia mengungkapkan, berdasarkan sejarah penyebaran agama di seluruh Indonesia, terutama Muslim, Nasrani, Hindu, Budha dari Tapanuli Tengah dan ada situs yang membuktikan itu.

“Untuk muslim ada situs Mahligai, Situs Papan Tinggi yang menyebarkan Islam kira-kira abad kelima masehi. Diikuti perkembangan selanjutnya yang masuk melalui Timur Tengah melalui Tapanuli Tengah ke seluruh nusantara,” kata Hendri.

Dia mengungkapkan, Barus ini dulunya merupakan bandar yang besar sehingga banyak saudagar dari Timur Tengah masuk dan menyebarkan agama ke seluruh Nusantara.

Monumen yang memiliki tiga tiang penyangga bola dunia ini memiliki filosofi adat batak yang menjadi kearifan lokal masyarakat adalah Adat Dalihan Na Tolu.

Hendri mengungkapkan Dalihan Na Tolu yang berarti tungku yang berkaki tiga merupakan filosofi kedua dalam kehidupan masyarakat Batak esensinya terbagi tiga, yaitu Somba marhula-hula (Tulang), Elek marboru (Boru), dan Manat mardongan tubu (Semarga) yang tentunya memiliki hak dan kewajiban terstruktur dan bersifat tetap.

Somba Marhula-hula merupakan istilah pertama yang bermakna bahwa kita harus menghormati hula-hula kita yang merupakan saudara laki-laki dari pihak istri.

Istilah kedua adalah Elek Marboru yang bermakna kelemah-lembutan dalam bersikap terhadap boru perempuan yang merupakan saudara perempuan kita.

Dan istilah ketiga adalah Manat Mardongan Tubu yang berarti bahwa kita harus akur terhadap saudara yang semarga.

Tidak hanya itu, Gubsu Erry mengaku kedatangan Presiden Jokowi meresmikan Titik Nol Islam Nusantara merupakan momentum luar biasa dalam peradaban titik nol agama di Indonesia. “Masyarakat Sumatera Utara bangga bahwa penyebaran agama di seluruh Indonesia, mulai dari Barus, Tapanuli Tengah. Tugas kita bersama melestarikan budaya di Kota Tua Bersejarah, Barus ini,” sebut Tengku Erry.

Budha dari Tapanuli Tengah dan ada situs-situs yang membuktikan itu. “Untuk muslim ada situs tua Mahligai, situs Papan Tinggi yang menyebarkan Islam kira-kira abad ke 5 Masehi dari saudagar-saudagar Timur Tengah yang berlayar menuju Tapanuli Tengah,’’ ujar Erry yang sudah tiga kali mengunjungi makam-makam tua ini.

Khusus untuk JBMI, Gubsu Erry mengingatkan, sebagai ormas Batak Muslim dimulai dari DPC-DPC, JBMI  ikut melestarikan adat budaya yang ada di daerahnya. Karena Sumut sebagai provinsi yang berbilang kaum miliki potensi dari segi adat budaya yang cukup banyak.

“JBMI yang ada di kabupaten/Kota diharapkan dapat mendorong pelestarian adat budaya dan situs sejarah yang ada di daerahnya, tentunya untuk Sumatera Utara yang lebih maju dan paten,” ucap Erry. (ts/ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed