TAPTENG NEWS – JAM 8.00 WIB
Krisis air bersih melanda Kelurahan Hajoran Induk dan Kelurahan Hajoran Indah, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Dua ratusan Kepala Keluarga (KK) di dua kelurahan bertetangga ini mengalami krisis air bersih.
Krisis air bersih di akibatkan karena pasokan air yang mengalir pada instalasi pipa milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Mual Nauli tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan warga. Hal ini ditenggarai akibat jumlah konsumen yang semakin banyak. Sementara debet air yang mengalir semakin mengecil.
“Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa membeli air ke depot – depot penjualan air bersih. Sementara untuk mencuci pakaian, warga eksodus ke sungai Sibuluan,” terang Parulian Silitonga, warga Hajoran Indah, Selasa (17/6) kemarin.
Dikatakanya, krisis air bersih ini mulai terasa sejak awal Ramadhan kemarin. Sumber air menuju bak penampungan air mengecil, sementara warga yang membutuhkan semakin banyak. Jadi semua berdampak kepada masayrakat sekitar ini yang menjadi pelanggan.
“Debet airnya tidak memenuhi standar, kenapa konsumen di tambah lagi. Sampai ada yang membayar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Apakah hanya gara-gara mengejar setoran, pelayanan dinomor duakan?,” kata Parulian dengan nada kesal
Ketua BKM Al Mustaqim Bugis Kelurahan Hajoran Indah ini berharap kiranya PDAM Mual Nauli menambah debit air di wilayah mereka. Biaya masuk dan rekening bulanan yang dibebankan selayaknya diikuti dengan perbaikan kualitas dan peningkatan layanan pihak direksi PDAM Mual Nauli.
“Seharusnya kewajiban yang dibebankan kepada pelanggan harus diikuti penambahan debit air dan peningkatan layanan,” harapnya.
Ia juga meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng turun tangan dalam menangani persoalan tersebut. Karena bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, krisis air bersih sudah merambah ke kebutuhan ibadah warga. Beberapa masjid sudah tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan air wudhu para jama’ah.
“Untuk ambil air uduk di masjid Al Mustaqim pun air sudah tidak ada. Akibatnya pengurus mesjid juga yang disalahkan,” pungkasnya.
Hingga berita ini dikirimkan, Direktur PDAM Mual Nauli, Puspa Aladin Sibuea, belum berhasil dikonfirmasi. (ben)






