SIBOLGA NEWS – JAM 16.00 WIB
Murat Situmorang (61) bersama Istrinya Sarmiyati Siregar (54) bekerja sebagai pemulung yang tinggal di Kelurahan Aek Parombunan, Kecamatan Sibolga Selatan, kota Sibolga dapat bertahan hidup selama 19 Tahun dari hasil sampah plastik dan botol – botol bekas yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Aek Parombunan, Jumat (29/11)
Murat menceritakan kisah hidupnya sampai di kota Sibolga pada Tahun 2000 bersama Istrinya dan anaknya, dan tinggal di sebuah gubuk diatas tanah milik salah seorang warga Sibolga.
“Selama tinggal disana, mereka sekeluarga hanya mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa Raskin itu pun baru 2 Tahun ini didapatkan. Bantuan bedah rumah tidak dapat, karna kata pemerintah masih menumpang,” kata Murat
Lanjunya, kerja selama ini hanya sebagai memulung bersama Istrinya. Bisa bertahan hidup dari hasil menjual sampah – sampah bekas ini. Sebab anak kami bisa tumbuh dan besar sampai menikah karna hasil dari menjual sampah – sampah bekas ini
“Kalau pun dijual hasil sampah ini paling uangnya hanya berkisar Rp. 315.000, itu pun menjualnya kadang sekali sebulan dan kadang sekali 3 minggu. Uangnya itu lah yang kami pakai untuk kebutuhan hidup, kalau tidak ada uang kami terpaksa menjual telor ayam agar bisa makan,” ucapnya dengan wajah sedih
Sekarang ada putri saya yang paling kecil yang duduk di kelas 2 SMA terpaksa harus di sekolahkan oleh abangnya di Binjai, karna saya tidak mampu lagi untuk menafkahinya dan membiayai sekolahnya.
“Sebab yang katanya bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah untuk anak sekolah itu sama sekali belum pernah diterima, baik dari anak saya yang pertama sampai yang paling kecil belum pernah menikmati bantuan PKH tersebut,” sebutnya
Saat ini Murat dan istrinya yang tinggal didalam gubuk, sebab anak – anaknya yang lain sudah pada menikah. Akan tetapi kadang anak – anak saya ini datang kemari berkunjung, habis itu pergi lagi
Ketika ditanya mengenai BPJS, pria paruh baya ini mengatakan tidak ada kartu BPJS baik dari pemerintah pusat, daerah atau dari Mandiri.
“Jadi kalau pun saya berobat harus bayar, dikarenakan dirinya tidak memilik BPJS. Kalau ada uang, saya baru pergi berobat, kalau tidak gak ada uang. Terpaksa harus membeli obat yang ada di kedai – kedai terdekat, itu lah yang sama makan,” ucap pria tua yang pernah kerja di LHKP Sibolga sebagai pendorong gerobak sampah pada waktu 5 Tahun yang silam ini. (hen)
Tidak ada komentar