SIBOLGA NEWS – JAM 10.20 WIB
Hingga sepekan memasuki tahun baru 2020, sejumlah pedagang di Pusat Pasar Nauli, Kota Sibolga, mengeluhkan sepinya pembeli.
Salah seorang pedagang Sembako di Pasar Nauli, Nining mengatakan, omzet penjualanya mengalami penurunan sejak menjelang perayaan Natal Tahun 2019.
Menurut Nining, menurunya produksi ikan oleh nelayan Sibolga sangat mempengaruhi lemahnya daya beli masyarakat.
Ditambah dengan persoalan keberadaan PKL (pedagang kaki lima) di luar pasar, yang hingga kini Pemerintah daerah belum ditertibkan.
“Sedikit kali pembeli. Gak ada hasil laut, ya gak adalah uang orang membeli. Mana lagi, PKL di luar itu saja belum juga ditertibkan,” keluh Nining, Selasa (07/01).
Persoalan yang sama juga dikeluhkan Mita, pedagang sayuran di Pasar Nauli tersebut menuturkan, omzet yang diperolehnya tidak menentu.
Bahkan, ia pernah mengalami kerugian akibat dagangan sayuran miliknya membusuk setelah lama tidak laku terjual.
“Gimanalah ya, susah sekarang mengharapkan pembeli. Kadang malah rugi, karena sempat busuk barang dagangan saya,” ungkap Mita.
Pagawai UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pasar, Rahmad Sahnin Panggabean, yang keseharian bertugas memantau harga pasar, membenarkan kondisi sepinya pembeli di Pasar Nauli.
Sahnin berpendapat, faktor utama sepinya pembeli di pasar lebih disebabkan oleh menurunya hasil tangkapan ikan para nelayan di Sibolga.
“Daya beli masyarakat gak ada, sepi, gak ada orang membeli. Karenakan, hasil orang Sibolga kan ikan, sudah pun apa (minim produksi) ikan, apa lagi. Faktor lain gak ada,” sebut Rahmad, di Kantor UPT Pasar. (riz)






