Hasil Ikan Membludak Permintaan Tinggi, Es Batang Langka

waktu baca 4 menit
Selasa, 4 Feb 2020 08:22 1 news24jam

SIBOLGA NEWS – JAM 15.00 WIB

Kelangkaan es batang atau es ikan yang saat ini dikeluhkan oleh konsumen (nelayan dan pedagang ikan) di Sibolga dan Tapanuli tengah (Tapteng), merupakan salah satu faktor dari membludaknya hasil ikan dan tingginya permintaan dari konsumen akan es tersebut.

Hal itu dikatakan langsung oleh Wakil Manager, CV. Yakin, Asmir Panggabean (64) saat dikonfirmasi News 24jam.com, Senin (03/02) di kantornya sekira jam 10.30 WIB.

Dikatakan Asmir, CV. Yakin hanya memproduksi sebanyak 3000 batang es perharinya dan seluruhnya di didistribusikan ke Nelayan Sibolga – Tapteng.

“Produksi kami, kalau lancar mesin, paling tinggi 3000 balok es. Sementara permintaan per hari sudah 4000. Semua produksi kami, itu kami salurkan untuk nelayan semua. Mulai dari Hajoran, Kalangan, Pandan, dan ketangkahan – t ngakahan lah, khususnya yang ada di Sibolga dan Tapteng. Artinya, permintaan tersebut sudah melebihi dari kouta kami yang ada di CV. Yakin,” terangnya.

Asmir mengaku, pihaknya tidak pernah menjual es tersebut ke luar daerah. Ia menyebut, seluruhnya didistribusikan hanya untuk konsumen lokal (Sibolga-Tapteng).

“Dalam situasi begini, kami tidak menjual es sampai ke luar daerah. Mengenai kelangkaan es batu ini, sudah satu bulan ini dikeluhkan konsumen. Produksi kami boleh di cek, semuanya kami salurkan ke tangkahan. Dan mengenai kelangkaan ini mungkin karena faktor ikan banyak, bot banyak berangkat, itu saja kelangkaannya saya rasa. Kalau produksi kami, murni 100 persen kami salurkan untuk nelayan,” ucapnya.

Ia menambahkan, dalam situasi saat ini, pihaknya lebih mengutamakan nelayan Sibolga-Tapteng, dan menolak jikapun ada permintaan dari luar daerah.

“Tapi kalau stok kami belum habis dan nelayan Sibolga-Tapteng tidak membutuhkannya lagi, baru kami kirim ke luar daerah, misalnya ada permintaan dari Padang atau Aceh, kami jual. Namanya es, kami tidak bisa simpan,” ungkapnya.

Untuk harga es perbatang, Asmir menyebut dijual seharga 17.500 rupiah. “Itukan ada asosiasinya,” ujarnya.

Asmir juga mengimbau nelayan atau konsumen agar dapat bersabar dengan situasi kelangkaan es yang terjadi saat ini.

Sementara, Ketua Kelompok Nelayan Tolong Menolong (KNTM) Sibolga-Tapteng, Ikhmaluddin Lubis atau akrab disapa Immad mengungkapkan, mengenai kelangkaan es ikan, sebelumnya itu sudah ia usahakan, tempo hari di tahun 2019.

“Sewaktu itu nelayan, 3 hari, 2 hari tidak melaut karena es batangan tidak ada. Jadi saya ambil kesimpulan, saya surati waktu itu PPN, yang dipimpin pak Rustardi, makanya 5 Februari 2019 itu diadakan rapat dengan institusi terkait dan juga dengan para pengusaha-pengusaha pabrik es waktu itu,” ucap Immad, Senin (03/02) sekira jam 12.00 WIB.

Dalam kesimpulan rapat tempo hari, kata Immad, memang itu diprioritaskan untuk daerah. Karena disitu ada gangguan-gangguan dari daerah lain seperti dari mobil-mobil luar yang memuat es batangan seperti thermoking yang 14 roda yang mampu memuat ribuan es batang dan juga kapal-kapal yang CV-nya dari luar.

“Jadi menurut saya, kelangkaan es itu yang terjadi sampai sekarang karena yang tertulis tidak sesuai dengan fakta yang dinyatakan di lapangan. Karena yang tertulis di situ, dilarang ilegal fishing ataupun pukat ikan (PI) memuat daripada es batangan, karena itu sudah terlarang dan memang betul. Dan SIUP atau CV yang provinsi daripada luar Sibolga ataupun Tapteng,” pungkasnya.

“Tapi dalam 2 hari ini alhamdulillah sudah saya tangani dan es itu sudah ada, sudah kembali normal,” tambahnya.

Immad menilai, kelangkaan es saat ini jelas ada dari pihak – pihak tertentu, salah satunya pihak yang berada dari luar daerah.

“3 hari yang lewat itu es banyak, ikan juga banyak, dan kapal – kapal yang dari luar daerah Sibolga-Tapteng ini juga banyak yang memuat es batangan untuk berangkat,” imbuhnya.

Jadi mengenai kelangkaan es batang memang bukan hanya nelayan lokal yang membutuhkan, karena mereka bongkar di sini, lalu memuat es kemudian berangkat terus ke laut, nelayan luar, yang provinsi nya di luar daripada Sibolga-Tapteng ini.

Ditanya tentang tuntutannya tempo hari, Immad menyampaikan, bahwa CV yang di luar daripada Sibolga-Tapteng, seharusnya tidak diberikan. Hal ini terlebih dahulu harus diprioritaskan untuk daerah.

“Karena pabrik es itu tercipta hanya untuk daerah, untuk di Sibolga-Tapteng ini, bukan untuk di luar, tapi kalau memang seandainya stok es lebih, silahkan kalau mau di jual ke luar daerah,” tutupnya.

Terpisah, Pedagang ikan di Jalan Balam, Farlin Pasaribu, mengatakan, beberapa hari ini pemasok es banyak kekurangannya, yang masuk ke Pasar ikan tersebut cuma 20 persen dari seluruh pabrik es di kota Sibolga, dan 80 persennya lagi di jual ke luar.

“Kelangkaan yang sangat drastis itu kami rasakan sudah sekitar 2 minggu ini lah, karena pasokan ikan dari luar, dari Aceh, Padang, Belawan, jadi es itu di bawa ke luar,” keluhnya.

Selaku pedagang ikan, ia mengaku sangat merasa kesulitan untuk mendapatkan es dan mengalami kerugian berkisar 50 persen dari sebelumnya.

“Jadi efek dari sulitnya kita mendapatkan es, Yang pertama kali, ikannya rusak, yang kedua kerugian sangat drastis. Karena biasanya saya mampu menjual ikan disini sebanyak 300 kg hingga 500 kg, dan butuh es sebanyak 8 batang, tapi sekarang saya dapat cuma setengah dari situ (4 batang),” tutupnya. (ful)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA